
Kematian beruntun tiga satwa kharismatik yang berstatus terancam punah ini menjadi tamparan keras sekaligus peringatan darurat bagi kondisi habitat satwa liar di Bengkulu yang kian terjepit oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Duka di Tengah Hutan Produksi: Induk dan Anak Gajah Membusuk
Tragedi pertama terungkap pada Rabu (29/4/2026). Di tengah kawasan Hutan Produksi Air Teramang—yang masuk dalam wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber—petugas menemukan bangkai satu induk gajah betina beserta anaknya.Baca Juga: Angka Kemiskinan Bandar Lampung 2025: Tantangan Pemerataan Kesejahteraan Kota
Saat ditemukan, kondisi kedua satwa berbelalai ini sudah mulai membusuk. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kematian ibu dan anak gajah tersebut. Kejadian ini langsung memantik perhatian serius dari pihak berwenang. Kapolda Bengkulu bahkan telah mengeluarkan instruksi tegas kepada jajarannya untuk melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap tabir di balik kematian tragis ini.
Saat ditemukan, kondisi kedua satwa berbelalai ini sudah mulai membusuk. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kematian ibu dan anak gajah tersebut. Kejadian ini langsung memantik perhatian serius dari pihak berwenang. Kapolda Bengkulu bahkan telah mengeluarkan instruksi tegas kepada jajarannya untuk melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap tabir di balik kematian tragis ini.
Hanya Berselang Sehari, Harimau Sumatra Ditemukan Mati di Aliran Sungai
Belum reda keterkejutan publik atas matinya gajah Sumatra, duka kembali berlanjut pada Kamis (30/4/2026). Seekor harimau Sumatra ditemukan terbujur kaku di aliran anak sungai Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko.Baca Juga: Lembah Hijau Lampung: Destinasi Keluarga Paket Lengkap di Bandar Lampung
Jarak waktu penemuan yang sangat dekat dengan bangkai gajah memicu kekhawatiran adanya ancaman sistematis terhadap satwa dilindungi di wilayah tersebut. Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan nekropsi atau autopsi pada bangkai harimau.
Jarak waktu penemuan yang sangat dekat dengan bangkai gajah memicu kekhawatiran adanya ancaman sistematis terhadap satwa dilindungi di wilayah tersebut. Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan nekropsi atau autopsi pada bangkai harimau.
Menanti Hasil Uji Laboratorium dan Penyelidikan Polisi
Hingga saat ini, baik pihak BKSDA Bengkulu maupun aparat kepolisian setempat masih terus mengumpulkan data di lapangan. Tim medis juga tengah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menyimpulkan secara pasti penyebab kematian ketiga satwa tersebut.Masyarakat dan pegiat lingkungan kini mendesak adanya transparansi dalam penyelidikan ini. Pasalnya, ada kekhawatiran besar apakah kematian satwa-satwa ini murni karena faktor alami, ataukah akibat dari konflik berkepanjangan dengan manusia serta ancaman perburuan liar yang masih terus mengintai.