
Lampung Insight - Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan pentingnya hilirisasi sektor peternakan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat.
Menurut Rahmat Mirzani Djausal, sektor pertanian dan peternakan tidak boleh hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi juga harus mampu mendorong industrialisasi daerah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Pertanian dan peternakan harus menjadi sumber industrialisasi daerah yang dapat membuka lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak,” ujarnya di Bandarlampung, Senin.
Hilirisasi Dinilai Penting untuk Pasokan Protein
Gubernur Lampung mengatakan peningkatan konsumsi protein hewani masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.Karena itu, hilirisasi sektor peternakan dinilai perlu diperkuat untuk menjaga pasokan protein hewani tetap stabil dan terjangkau.
Baca Juga : Perbaikan Jalan Pattimura Metro Dimulai, Pemprov Lampung Targetkan Konektivitas Meningkat
Menurutnya, kebutuhan protein masyarakat mulai dari telur, daging, ayam, ikan, hingga susu harus dipastikan tersedia secara berkelanjutan.
“Hilirisasi peternakan penting untuk memperkuat pasokan protein, menjaga harga tetap terjangkau, sekaligus mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis,” kata dia.
Program Desaku Maju Jadi Penguatan Ekonomi Desa
Pemerintah Provinsi Lampung juga memiliki program Desaku Maju yang difokuskan untuk memperkuat ekonomi desa melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi sektor pertanian.Program tersebut mencakup pelatihan vokasi, pengembangan hasil pertanian, hingga pembangunan infrastruktur desa.
Baca Juga: BPS: Pengangguran di Lampung Turun pada Februari 2026, Jumlah Pekerja Meningkat
Selain itu, penguatan kelembagaan desa seperti koperasi dan BUMDes juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Pemprov Lampung berharap desa-desa di Lampung dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi baru berbasis sektor pertanian dan peternakan.
Produksi padi di Lampung tercatat mencapai sekitar 3,25 juta ton gabah kering giling (GKG), sementara produksi jagung mencapai 1,7 juta ton atau terbesar keenam nasional.
Selain itu, produksi ubi kayu Lampung juga mencapai sekitar 7,5 juta ton yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak. Di sektor peternakan nasional, Lampung juga memiliki kontribusi cukup besar.
Selain itu, penguatan kelembagaan desa seperti koperasi dan BUMDes juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Pemprov Lampung berharap desa-desa di Lampung dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi baru berbasis sektor pertanian dan peternakan.
Lampung Punya Potensi Besar di Sektor Peternakan
Rahmat Mirzani Djausal menilai Lampung memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor peternakan karena didukung produksi pertanian yang melimpah.Produksi padi di Lampung tercatat mencapai sekitar 3,25 juta ton gabah kering giling (GKG), sementara produksi jagung mencapai 1,7 juta ton atau terbesar keenam nasional.
Selain itu, produksi ubi kayu Lampung juga mencapai sekitar 7,5 juta ton yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak. Di sektor peternakan nasional, Lampung juga memiliki kontribusi cukup besar.
Baca Juga: Pemprov Lampung Salurkan Bantuan Rp500 Juta untuk Korban Bencana di Tapanuli Selatan
Untuk komoditas sapi potong, Lampung berada di posisi keempat nasional. Sementara untuk kambing berada di peringkat ketiga nasional.
Sedangkan produksi ayam pedaging menempati posisi kesembilan nasional dan ayam petelur di peringkat kesepuluh nasional.
Pemerintah Provinsi Lampung berharap penguatan hilirisasi pertanian dan peternakan dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat ketersediaan protein hewani masyarakat.
Untuk komoditas sapi potong, Lampung berada di posisi keempat nasional. Sementara untuk kambing berada di peringkat ketiga nasional.
Sedangkan produksi ayam pedaging menempati posisi kesembilan nasional dan ayam petelur di peringkat kesepuluh nasional.
Pemerintah Provinsi Lampung berharap penguatan hilirisasi pertanian dan peternakan dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat ketersediaan protein hewani masyarakat.