LAMMPUNGINSIGHT.NET, LAMPUNG SELATAN – Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir Kabupaten Lampung Selatan menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Sebanyak enam unit early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini telah dipasang di sejumlah desa pesisir yang dinilai memiliki potensi terdampak aktivitas gunung api tersebut.
Perangkat ini disiapkan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat apabila aktivitas Gunung Anak Krakatau memicu kondisi yang berpotensi membahayakan, seperti gempa bumi maupun peningkatan gelombang laut yang dapat menyebabkan tsunami.
Enam EWS Dipasang di Wilayah Rawan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, Rudy Syawal, mengatakan peningkatan kesiapsiagaan dilakukan seiring adanya eskalasi aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa waktu terakhir.
BPBD Lampung juga terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api tersebut.
“Memang beberapa waktu ini Gunung Anak Krakatau ada eskalasi erupsi, sehingga kami secara rutin melakukan koordinasi dengan Pos Pantau Krakatau,” kata Rudy.
Menurutnya, enam unit EWS yang dipasang di Lampung Selatan merupakan bantuan Bank Dunia yang disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Penempatan perangkat dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak lebih awal apabila terjadi bencana akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Untuk Kabupaten Lampung Selatan sudah diidentifikasi, saat ada erupsi itu ada beberapa titik yang akan terdampak pertama kali. Di sana kami pasang alat early warning system bantuan dari Bank Dunia melalui BNPB,” ujarnya.
EWS Bisa Aktif Otomatis
Rudy menjelaskan, sistem peringatan dini tersebut dirancang untuk memberikan informasi awal secara otomatis ketika terdapat kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Sistem dapat memberikan peringatan apabila aktivitas Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap peningkatan tinggi gelombang laut ataupun memicu gempa.
Dengan adanya perangkat tersebut, masyarakat di wilayah pesisir diharapkan memiliki waktu lebih cepat untuk melakukan tindakan penyelamatan dan evakuasi apabila terjadi kondisi darurat.
Namun, apabila terjadi gangguan teknis pada perangkat, petugas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) tetap dapat mengaktifkan sistem secara manual dari pos pemantauan.
“Alat early warning system yang ada di daerah pesisir ini secara otomatis akan memberikan informasi awal kalau terjadi erupsi yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut atau gempa. Bila ada kendala teknis, tim Pusdalops bisa menyalakannya dari pos pantau secara manual,” jelas Rudy.
Dipasang di Desa Tangguh Bencana
Enam perangkat EWS tersebut dipasang di wilayah yang telah ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana).
Menurut Rudy, pemilihan lokasi tidak hanya mempertimbangkan tingkat kerawanan wilayah, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Masyarakat di desa-desa tersebut telah mendapatkan berbagai pelatihan mengenai mitigasi bencana, evakuasi hingga penanganan awal ketika terjadi kondisi darurat.
“Lampung Selatan memiliki tingkat kerawanan bencana cukup banyak. Di sana sudah banyak Desa Tangguh Bencana yang dibentuk dengan bantuan NGO ataupun Bank Dunia,” kata Rudy.
Ia menambahkan, keberadaan masyarakat yang telah mendapatkan pelatihan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat respons ketika terjadi bencana.
“Jadi, di desa itu masyarakat sudah terbiasa dan terlatih ketika ada kejadian. Mereka bisa dengan cepat melakukan mitigasi di wilayahnya,” lanjutnya.
Aktivitas Kegempaan Gunung Anak Krakatau Terus Dipantau
Selain memasang EWS, BPBD Lampung terus memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau melalui Pusdalops PB dan melakukan koordinasi dengan pos pengamatan gunung api.
Berdasarkan data BPBD Lampung pada Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih cukup tinggi.
Dalam periode tersebut tercatat 60 kali gempa hembusan dengan amplitudo 18,5–72 milimeter dan durasi 22–78 detik.
Selain itu, tercatat dua kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 21–58 milimeter dan durasi 7–16 detik.
Aktivitas lainnya berupa gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 13,6–68 milimeter dan durasi 5–23 detik. Sementara itu, satu kali tremor menerus juga tercatat dengan amplitudo 1–40 milimeter.
Tingginya aktivitas tersebut membuat pemantauan Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif menggunakan pengamatan visual maupun instrumen kegempaan.
Gunung Anak Krakatau Masih Level III atau Siaga
Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami 20 kali erupsi pada Senin, 17 Agustus 2026.
Saat ini status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan dan tidak mendekati kawasan gunung api.
Aktivitas maupun kegiatan masyarakat dilarang dilakukan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Pemasangan enam unit EWS di pesisir Lampung Selatan diharapkan dapat memperkuat sistem mitigasi bencana sekaligus memberikan peringatan lebih cepat kepada masyarakat apabila terjadi perubahan kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana.
Bagi masyarakat pesisir, keberadaan sistem peringatan dini tersebut menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di kawasan Selat Sunda.(hk)






