LAMPUNGINSIGHT.NET – Debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai menyelimuti permukiman warga Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, setelah material erupsi terbawa angin menuju wilayah tersebut.
Material berwarna hitam terlihat menempel di halaman rumah, lantai keramik hingga sejumlah bagian luar bangunan. Kondisi tersebut membuat sebagian warga mulai menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
Warga Pulau Sebesi, Candra, mengatakan debu vulkanik mulai terlihat lebih banyak pada Senin (17/8/2026) sore. Menurutnya, arah angin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan abu dari aktivitas Gunung Anak Krakatau terbawa hingga ke permukiman.
“Kalau angin selatan, naik ke sini. Tadi disapu, disapu lagi sudah hitam lagi,” kata Candra.
Debu Kembali Menempel Setelah Disapu
Candra mengatakan intensitas debu yang berada di sekitar rumahnya masih tergolong sedang. Namun, material tersebut cukup mudah terlihat setelah menempel di halaman dan permukaan rumah.
Dalam waktu sekitar satu jam, ia mengaku sudah dua kali membersihkan halaman rumah. Meski telah disapu, debu kembali menempel.
“Ini sudah dua kali disapu. Mumpung masih halus,” ujarnya.
Kondisi tersebut belum menyebabkan gangguan pernapasan yang dirasakan warga. Meski demikian, masyarakat tetap mengkhawatirkan kemungkinan meningkatnya paparan abu vulkanik, terutama bagi anak-anak, balita dan warga yang sedang mengalami gangguan kesehatan.
“Kalau parah memang bisa ada gangguan pernapasan. Yang dikhawatirkan anak-anak kecil, balita, begitu juga orang dewasa,” kata Candra.
Sebagai langkah antisipasi, warga mulai mengenakan masker ketika berada di luar rumah. Warga yang kondisi kesehatannya kurang baik juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Arah Angin Pengaruhi Sebaran Abu Vulkanik
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi menjelaskan bahwa sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin.
Jika angin bergerak menuju Pulau Sebesi, material hasil erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi terbawa hingga ke kawasan permukiman.
“Abu vulkanik yang sampai ke wilayah warga sangat dipengaruhi arah angin. Kalau arah anginnya menuju Sebesi, material abu bisa terbawa ke wilayah tersebut,” ujar Andi.
Menurutnya, masyarakat perlu memperhatikan kondisi apabila intensitas abu vulkanik semakin meningkat. Penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan debu ketika berada di luar rumah.
“Kalau abu mulai banyak, masyarakat sebaiknya menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama anak-anak dan warga yang memiliki kondisi kesehatan tertentu,” katanya.
Gunung Anak Krakatau Masih Level III Siaga
Andi juga meminta masyarakat tetap mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi. Saat ini, status gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap waspada terhadap perubahan kondisi di sekitar Pulau Sebesi maupun kawasan pesisir Lampung Selatan.
“Kami terus melakukan pemantauan. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG,” pungkasnya.
Kemunculan debu vulkanik di Pulau Sebesi menjadi salah satu dampak yang perlu diperhatikan seiring aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi angin dapat menyebabkan material erupsi terbawa ke wilayah permukiman, sehingga warga perlu mengikuti arahan petugas dan menggunakan perlindungan diri apabila paparan abu meningkat.
Untuk sementara, warga diimbau tetap tenang, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah serta memantau informasi resmi terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau.(hk)






