Wisata  

Melinting Fest 2026 di Lampung Timur, Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Desa

Melinting Fest 2026 Jadi Ruang Pelestarian Budaya dan Penggerak Ekonomi Desa di Lampung Timur
Melinting Fest 2026 Lampung Timur | Foto: biroadpim.lampungprov.go.id

Melinting Fest 2026 Jadi Ruang Pelestarian Budaya dan Penggerak Ekonomi Desa di Lampung Timur

LAMPUNGINSIGHT.NETMelinting Fest 2026 menjadi salah satu upaya memperkuat pelestarian adat dan budaya Lampung sekaligus mendorong potensi ekonomi masyarakat desa di Kabupaten Lampung Timur.

Festival tersebut digelar di kawasan Wisata Embung Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Lampung Timur, Senin (24/8/2026).

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai Melinting Fest tidak seharusnya hanya menjadi pertunjukan seni dan budaya.

Menurutnya, festival dapat dikembangkan sebagai ruang untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat identitas masyarakat, sekaligus memperkenalkan potensi budaya Lampung kepada masyarakat yang lebih luas.

“Melinting Fest bukan hanya sebuah pertunjukan seni dan budaya. Melinting Fest adalah ruang untuk merawat warisan leluhur, menumbuhkan kebanggaan akan identitas, memperkuat silaturahmi, merawat kebersamaan,” ujar Jihan.

Dorong Budaya Lampung Naik ke Tingkat Nasional

Jihan mengatakan Lampung memiliki kekayaan budaya yang besar sebagai daerah yang dikenal dengan semboyan Sai Bumi Ruwa Jurai.

Kekayaan tersebut tidak hanya berupa seni pertunjukan, tetapi juga mencakup aksara Lampung, adat istiadat, serta berbagai nilai kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia menilai budaya tidak boleh hanya diposisikan sebagai peninggalan masa lalu. Dengan pengelolaan dan promosi yang konsisten, kebudayaan dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Budaya ini tidak akan lestari, tidak akan terus bisa tumbuh, tidak akan bisa terus didengar jika kita tidak ceritakan, jika kita tidak visualkan, dan jika kita tidak praktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pemprov Lampung juga mendorong penguatan nilai-nilai budaya seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Juluk Adok dalam kehidupan masyarakat.

Nilai tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Lampung yang berkaitan dengan kehormatan, hubungan sosial, kebersamaan, dan gotong royong.

Jihan berharap Melinting Fest dapat terus berkembang dan suatu saat masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) sehingga budaya Melinting memiliki jangkauan promosi yang lebih luas.

Budaya dan Ekonomi Desa Berjalan Bersama

Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mendukung pengembangan budaya Melinting sebagai bagian dari identitas daerah.

Namun, menurutnya, pelestarian budaya juga perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia melihat pengembangan desa wisata dan ekonomi lokal dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.

“Ini menjadi kekuatan bersama, kolaborasi bagaimana peningkatan ekonomi desa berbanding lurus terhadap kesejahteraan masyarakat dan juga memiliki pondasi yang kuat terhadap budaya,” kata Ela.

Ia berharap Desa Nibung serta desa-desa lain di kawasan Keratuan Melinting dapat berkembang sebagai contoh desa yang mampu menggabungkan sektor pariwisata, ekonomi masyarakat, adat, dan budaya.

Melinting Fest Libatkan Sekitar 1.000 Penari

Salah satu bagian menarik dalam Melinting Fest 2026 adalah keterlibatan sekitar 1.000 penari Tari Melinting.

Para penari berasal dari kalangan pelajar SD, SMP hingga SMA. Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga agar seni tradisional tetap dikenal dan dipraktikkan.

Ratu Melinting XVII Rizal Ismail bergelar Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV mengatakan Tari Melinting memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat adat Melinting.

Secara tradisional, tarian tersebut ditampilkan dalam rangkaian adat perkawinan masyarakat Melinting dan digunakan untuk menyambut tamu agung.

Tari Melinting juga tercatat pernah tampil dalam sejumlah momentum penting, termasuk di hadapan Residen Lampung dan Sunan Solo pada 1930, hingga berbagai acara kenegaraan pada era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.

Tarian tersebut bahkan pernah dibawa ke Jerman dan kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014.

Menurut Rizal, penyelenggaraan Melinting Fest memiliki dua tujuan utama, yakni menjaga kelestarian adat serta memperkuat persatuan masyarakat.

Ia berharap festival tersebut dapat digelar secara rutin setiap tahun dan tidak hanya berpusat di satu lokasi, tetapi bergantian di berbagai wilayah dalam kawasan Keratuan Melinting.

Gulai Pengecangan Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda

Melinting Fest 2026 juga menjadi momentum penting bagi pelestarian kuliner tradisional Lampung.

Dalam kegiatan tersebut diberikan sertifikat dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia yang menandai Gulai Pengecangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Gulai Pengecangan atau Ngulai Pengecangan merupakan kuliner tradisional Lampung yang dikenal di kalangan masyarakat adat Saibatin.

Hidangan ini memiliki cita rasa gurih dan kaya rempah dengan kuah santan sebagai salah satu ciri khasnya.

Dalam tradisi masyarakat Keratuan Melinting, Gulai Pengecangan menjadi salah satu makanan kehormatan yang disajikan dalam pesta adat atau Gawi.

Penyajian makanan tersebut juga erat dengan tradisi Nayuh, ketika masyarakat memasak secara bersama-sama atau bergotong royong untuk menyambut para tamu.

Dalam Melinting Fest 2026, tradisi tersebut kembali dihadirkan melalui kegiatan memasak Gulai Pengecangan bersama.

Hal itu sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui tari dan upacara adat, tetapi juga melalui kuliner tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Dengan keterlibatan pemerintah, masyarakat adat, generasi muda dan masyarakat desa, Melinting Fest 2026 diharapkan dapat menjadi agenda budaya yang semakin kuat di Lampung Timur.

Festival tersebut menunjukkan bahwa budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat dapat dikembangkan secara bersamaan tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi identitas daerah.(hk)