LAMPUNGINSIGHT.NET – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memicu beragam respons dari masyarakat. Selisih harga yang mencapai Rp6.250 per liter dibandingkan Pertalite membuat sebagian pengendara mulai mempertimbangkan beralih ke bahan bakar yang lebih murah.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini tidak seluruh pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite setelah kenaikan harga tersebut.
Menurutnya, sebagian besar pengguna Pertamax memahami kebutuhan spesifikasi bahan bakar kendaraan yang mereka gunakan.
“Karena yang membeli Pertamax tahu kendaraan mereka memang cocok menggunakan Pertamax,” ujar Purbaya.
Harga Pertamax Naik Ikuti Tren Minyak Dunia
Kenaikan harga Pertamax terjadi seiring meningkatnya harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Per 10 Juni 2026, Pertamax dijual dengan harga Rp16.250 per liter, sementara Pertalite masih dipasarkan dengan harga Rp10.000 per liter.
Baca Juga: 26 Karyawan PT GGP Diduga Gelapkan Ribuan Liter Solar, Kerugian Capai Rp53 Juta
Perbedaan harga yang cukup lebar membuat sebagian masyarakat mulai menghitung ulang biaya operasional kendaraan sehari-hari.
Bagi pengguna dengan mobilitas tinggi, kenaikan tersebut dinilai cukup membebani pengeluaran bulanan.
Sebagian Pengendara Mulai Beralih ke Pertalite
Sejumlah pengguna kendaraan mengaku memilih beralih ke Pertalite untuk menghemat biaya bahan bakar.
Salah satunya Arif, karyawan swasta yang selama ini menggunakan Pertamax untuk kendaraan pribadinya.
Ia mengaku cukup terkejut dengan kenaikan harga yang terjadi dan memilih menggunakan Pertalite sebagai alternatif.
“Kenaikannya cukup signifikan, jadi saya terpaksa pindah ke Pertalite,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan Fitri. Namun, ia mengaku tidak akan sepenuhnya meninggalkan Pertamax.
Menurutnya, penggunaan Pertamax tetap diperlukan agar kondisi mesin kendaraan tetap terjaga.
“Paling nanti ganti-gantian antara Pertamax dan Pertalite,” katanya.
Pakar ITB Ingatkan Risiko Turun Oktan
Meski lebih murah, pengguna kendaraan diimbau tidak sembarangan mengganti jenis bahan bakar tanpa memperhatikan rekomendasi pabrikan kendaraan.
Pakar kendaraan bermesin bakar dari Institut Teknologi Bandung, Iman Kartolaksono Reksowardojo, pernah mengingatkan bahwa penggunaan BBM dengan angka oktan lebih rendah dari spesifikasi kendaraan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif.
Baca Juga: Disdikbud Lampung Bantah Isu Kecurangan ChatGPT pada Seleksi SMA Unggul 2026
Menurutnya, penggunaan BBM beroktan rendah berpotensi menyebabkan knocking atau gejala mengelitik pada mesin.
“Knocking harus dihindari karena dalam kondisi ekstrem dapat merusak mesin, membuat piston berlubang, menurunkan efisiensi, serta meningkatkan emisi gas buang,” jelasnya.
Jangan Tergiur Selisih Harga
Kendaraan yang dirancang menggunakan bahan bakar minimal RON 92 seperti Pertamax sebaiknya tetap menggunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan.
Meski selisih harga antara Pertamax dan Pertalite saat ini cukup besar, penggunaan BBM yang tidak sesuai spesifikasi dapat berdampak pada performa mesin dalam jangka panjang.
Baca Juga: Prabowo Kunjungi Lampung Hari Ini, Resmikan RSUD M Thohir dan Hadiri Munas HIPMI
Selain menurunkan efisiensi pembakaran, penggunaan BBM beroktan lebih rendah juga berpotensi meningkatkan biaya perawatan kendaraan di kemudian hari.
Karena itu, pemilik kendaraan disarankan mempertimbangkan aspek teknis selain faktor harga sebelum memutuskan mengganti jenis bahan bakar yang digunakan.






