Lampung Insight – Harga sejumlah bahan pangan di Provinsi Lampung mengalami kenaikan pada minggu pertama Mei 2026. Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai merah dan cabai rawit yang mengalami lonjakan cukup tajam dibandingkan awal bulan maupun periode April 2026.
Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, kenaikan harga dipicu oleh terganggunya pasokan komoditas hortikultura akibat serangan organisme pengganggu tanaman. Selain itu, kenaikan harga jagung sebagai bahan baku pakan ternak juga turut mendorong naiknya harga daging ayam ras di pasaran.
Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai merasakan kenaikan pengeluaran harian, terutama untuk kebutuhan dapur yang berkaitan dengan cabai, bawang, dan lauk pauk.
Cabai Merah dan Cabai Rawit Jadi Penyumbang Kenaikan Tertinggi
Komoditas cabai menjadi penyumbang utama kenaikan harga pangan di Lampung pada awal Mei 2026. Harga cabai merah tercatat mencapai Rp50.850 per kilogram atau naik 14,9 persen dibandingkan 1 Mei 2026. Jika dibandingkan April 2026, kenaikannya bahkan mencapai 34,1 persen.
Sementara itu, harga cabai rawit juga melonjak cukup tinggi hingga menyentuh Rp64.650 per kilogram. Angka tersebut naik 19,2 persen dibanding awal Mei dan meningkat 22,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga: Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis Menurut SMSI Lampung
Lonjakan harga cabai ini disebut terjadi akibat terbatasnya produksi petani karena serangan hama dan cuaca yang memengaruhi hasil panen. Komoditas hortikultura memang dikenal memiliki tingkat fluktuasi yang cukup tinggi, terutama ketika pasokan terganggu di sentra produksi.
Selain cabai, harga bawang merah turut mengalami kenaikan menjadi Rp43.900 per kilogram atau naik 5,4 persen dibanding awal Mei dan meningkat 10,1 persen dibanding April 2026.
Sedangkan bawang putih berada di harga Rp34.400 per kilogram. Meski naik tipis sebesar 0,7 persen dibanding awal Mei, harga bawang putih masih tercatat turun 1,6 persen dibandingkan April lalu.
Harga Daging Ayam Ikut Naik, Telur dan Minyak Goreng Turun
Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas protein hewani, terutama daging ayam ras. Harga ayam kini berada di angka Rp35.250 per kilogram atau naik 2,2 persen dibanding awal Mei dan meningkat 4,2 persen dibanding April 2026.
Bank Indonesia menyebut kenaikan harga ayam dipengaruhi mahalnya harga jagung yang menjadi bahan baku utama pakan ternak. Ketika biaya produksi peternak meningkat, harga jual ayam di tingkat konsumen ikut terdorong naik.
Baca Juga: Daftar Lengkap UMK Lampung 2026, Bandar Lampung Tertinggi
Meski demikian, beberapa bahan pangan lain justru mengalami penurunan harga. Harga telur ayam ras turun menjadi Rp27.000 per kilogram atau turun 2,5 persen dibanding awal Mei dan turun 6,4 persen dibanding April.
Harga gula pasir juga mengalami penurunan tipis menjadi Rp19.000 per kilogram. Angka tersebut turun 0,3 persen dibanding awal Mei dan turun 0,7 persen dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, harga minyak goreng berada di angka Rp22.200 per kilogram atau turun 0,2 persen dibanding awal Mei. Namun secara bulanan, harga minyak goreng masih tercatat lebih tinggi 3,2 persen dibanding April 2026.
Untuk komoditas lainnya, harga daging sapi relatif stabil di angka Rp132.500 per kilogram. Meski stabil dibanding awal Mei, harga daging sapi masih turun tipis 0,7 persen dibanding April.
Sedangkan harga beras masih bertahan di angka Rp14.850 per kilogram tanpa mengalami perubahan berarti.
Bank Indonesia Dorong Penguatan Pengendalian Inflasi Daerah
Melihat kondisi kenaikan harga pangan di Lampung, Bank Indonesia Provinsi Lampung menilai pengendalian inflasi daerah perlu terus diperkuat, khususnya untuk komoditas hortikultura yang sering mengalami gejolak harga.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memperkuat pemantauan harga dan memastikan ketersediaan pasokan di pasar tetap terjaga. Selain itu, pelaksanaan Gerakan Pasar Murah (GPM) secara selektif juga dianggap efektif untuk membantu menjaga keterjangkauan harga di masyarakat.
Bank Indonesia juga menyoroti pentingnya penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan wilayah pemasok utama guna menjaga kelancaran distribusi pangan ke Lampung.
Di sisi lain, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Satgas Pangan diharapkan terus ditingkatkan agar respons kebijakan terhadap gejolak harga bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Pemantauan harga pangan tersebut dilakukan di sejumlah pasar utama di Provinsi Lampung, di antaranya Pasar Tugu dan Pasar SMEP di Bandar Lampung, serta Pasar Tejo Agung dan Pasar Kopindo di Kota Metro.
Kondisi harga pangan dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih berpotensi mengalami fluktuasi, terutama pada komoditas hortikultura yang sangat dipengaruhi cuaca dan kondisi produksi petani.







