20 Pendaki Tersesat di Gunung Nepo Parepare, Seorang Wanita Diduga Kesurupan

Pendaki tersesat di Gunung Nepo Parepare

20 Pendaki Tersesat di Gunung Nepo Parepare, Seorang Wanita Diduga Kesurupan dan Dievakuasi SAR

LAMPUNG INSIGHT – PAREPARE ,  Sebanyak 20 pendaki dilaporkan tersesat saat turun dari Gunung Nepo yang berada di Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/5/2026) malam.

Dalam insiden tersebut, seorang pendaki wanita bernama Sofia (19) dilaporkan mengalami kondisi tidak wajar yang disebut sebagai halusinasi atau diduga kesurupan. Tim SAR gabungan akhirnya turun tangan untuk melakukan pencarian dan evakuasi seluruh rombongan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parepare, Rasdi Gery, mengatakan pihaknya menerima laporan sekitar pukul 18.54 WITA mengenai sekelompok pendaki yang tidak dapat menemukan jalur turun setelah mendaki Gunung Nepo.

Menurut Rasdi, salah satu anggota rombongan mengalami kondisi yang cukup mengkhawatirkan sehingga membutuhkan bantuan segera dari tim penyelamat.

Salah Jalur Saat Turun Gunung

Berdasarkan laporan yang diterima, rombongan pendaki sempat kehilangan arah ketika berada di jalur penurunan gunung. Mereka tidak mampu menemukan akses keluar yang benar sehingga memilih meminta bantuan.

“Kami menerima informasi dari salah satu pendaki bahwa mereka tidak bisa menemukan jalur turun karena salah jalur. Salah satu anggota rombongan bernama Sofia mengalami halusinasi atau yang sering disebut masyarakat sebagai kesurupan,” ujar Rasdi.

Baca Juga: Daftar 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Juni 2026, Mathew Baker Dapat Kesempatan

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim SAR gabungan langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan pencarian dan evakuasi.

Tim SAR Gabungan Diterjunkan

Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, SAR Brimob, unit penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran, hingga komunitas relawan penyelamat.

Tim SAR mulai bergerak naik ke lokasi sekitar pukul 21.05 WITA. Setelah melakukan pencarian selama kurang lebih 40 menit, petugas akhirnya berhasil menemukan seluruh rombongan pendaki.

Baca Juga: Pemkot Bandarlampung Siapkan BOSDa Rp300 Ribu untuk Siswa SMP

“Pukul 21.45 WITA kami berhasil menemukan mereka. Salah satu pendaki mengalami kondisi halusinasi dan seluruh rombongan kesulitan menemukan jalur turun,” kata Rasdi.

Penemuan tersebut menjadi titik awal proses evakuasi yang cukup menantang karena kondisi fisik para pendaki sudah menurun akibat kelelahan.

Keadaan Pendaki Lemas dan Dehidrasi

Saat ditemukan, sebagian besar anggota rombongan mengalami kelelahan karena kekurangan logistik, terutama air minum.

Menurut Rasdi, kondisi itu membuat beberapa pendaki mengalami dehidrasi ringan setelah berjam-jam berada di area pegunungan tanpa kepastian jalur pulang.

“Kondisi mereka lemas karena kehabisan bekal, terutama air minum. Saat ditemukan, kami langsung memberikan air dan bantuan pertama agar kondisi mereka membaik,” jelasnya.

Kurangnya persiapan logistik menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi ketika rombongan tersesat di jalur pendakian.

Sofia Dievakuasi Menggunakan Tandu

Dari seluruh anggota rombongan, Sofia menjadi pendaki dengan kondisi paling memprihatinkan.

Saat ditemukan petugas, remaja berusia 19 tahun itu berada dalam keadaan lemas, pucat, dan tidak mampu berbicara.

Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri, tim SAR memutuskan melakukan evakuasi menggunakan tandu hingga ke posko awal pendakian.

“Posisinya saat ditemukan sedang berbaring, sangat lemas, pucat, dan tidak bisa bicara. Karena itu kami tandu hingga ke posko awal,” ujar Rasdi.

Sementara itu, 19 pendaki lainnya masih mampu berjalan dan mengikuti proses evakuasi dengan pengawalan petugas SAR.

Rombongan Berasal dari Tiga Kelompok Pendaki

BPBD Parepare mengungkapkan bahwa total 20 pendaki tersebut merupakan gabungan dari tiga kelompok berbeda.

Kelompok pertama berasal dari Kabupaten Pinrang, kelompok kedua berasal dari komunitas Lappa Anging, sedangkan kelompok ketiga merupakan gabungan siswa dan siswi dari berbagai sekolah.

Meski berasal dari kelompok berbeda, mereka melakukan pendakian secara bersamaan hingga akhirnya mengalami kendala saat proses turun gunung.

“Total ada 20 pendaki dari tiga kelompok yang berbeda,” kata Rasdi.

Menunggu Penjemputan Orang Tua

Setelah berhasil dievakuasi ke posko awal, Sofia tidak langsung diperbolehkan pulang.

BPBD memilih menunggu kedatangan orang tuanya untuk memastikan kondisi remaja tersebut benar-benar aman sebelum meninggalkan lokasi.

Baca Juga: Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Awal Juni 2026, PSI Siapkan Jalan Sehat

Petugas juga menyarankan keluarga agar membawa Sofia menjalani pemeriksaan medis lanjutan apabila diperlukan.

“Kami menunggu orang tuanya datang terlebih dahulu. Setelah itu, keputusan untuk perawatan lebih lanjut kami serahkan kepada keluarga,” jelas Rasdi.

Pendaki Diimbau Persiapkan Logistik dan Melapor ke Posko

Pasca kejadian tersebut, BPBD Parepare mengingatkan para pendaki agar melakukan persiapan yang matang sebelum melakukan aktivitas pendakian.

Pendaki diminta memastikan ketersediaan logistik, terutama air minum dan perlengkapan keselamatan, serta melaporkan rencana pendakian kepada petugas posko.

Menurut Rasdi, pelaporan sangat penting agar jumlah pendaki, tujuan perjalanan, dan kondisi logistik dapat dipantau apabila terjadi keadaan darurat.

“Kami mengimbau seluruh pendaki untuk melapor ke posko sebelum naik gunung. Dengan begitu, kami bisa memantau jumlah pendaki, waktu keberangkatan, serta kesiapan perbekalan mereka,” tegasnya.

Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa keselamatan pendakian tidak hanya bergantung pada pengalaman, tetapi juga pada persiapan logistik yang memadai, pemahaman jalur, serta koordinasi dengan petugas setempat sebelum memulai perjalanan.