Daftar Isi
LAMPUNGINSIGHT.NET – Bagi orang yang baru pertama kali tinggal di Bandar Lampung, ada satu hal yang terkadang membutuhkan waktu untuk dibiasakan selain suasana kotanya, yakni bahasa sehari-hari.
Bukan hanya bahasa daerah Lampung yang mungkin terdengar berbeda bagi pendatang. Dalam percakapan sehari-hari, sebagian masyarakat juga menggunakan berbagai kata dan frasa slang yang berkembang di lingkungan pergaulan.
Beberapa di antaranya mungkin terdengar biasa bagi warga lokal, tetapi justru membuat orang dari luar Lampung bertanya-tanya.
Misalnya kata “geh”, “tah”, hingga “basing”. Ada pula penggunaan kata ganti seperti “kitaorang” atau “kamiorang” yang cukup mudah ditemukan dalam percakapan informal.
Istilah-istilah tersebut merupakan bagian dari kebiasaan berbahasa di lingkungan tertentu dan tidak selalu digunakan oleh seluruh masyarakat Lampung.
Lantas, apa saja slang yang cukup dikenal dalam percakapan sehari-hari di Lampung?
1. “Geh” dan “Tah”
Dua kata yang cukup sering membuat pendatang bertanya adalah “geh” dan “tah”.
Contohnya:
“Ayo, geh!”
atau:
“Iya, tah?”
Dalam penggunaan percakapan informal yang dijelaskan oleh penutur lokal, “geh” biasanya diletakkan di bagian akhir kalimat sebagai partikel tambahan.
Kata tersebut tidak selalu memiliki arti leksikal tertentu seperti kata benda atau kata kerja. Fungsinya lebih berkaitan dengan gaya atau nuansa percakapan.
Penggunaan “geh” dapat mengingatkan pada partikel dalam bahasa daerah lain yang juga digunakan untuk memberikan warna tertentu pada sebuah kalimat.
Sementara itu, “tah” biasa muncul pada bagian akhir kalimat, terutama dalam percakapan berbentuk pertanyaan.
Dalam penggunaan tertentu, “tah” memiliki fungsi yang mirip dengan partikel “-kah” dalam bahasa Indonesia. Namun, penggunaannya dalam percakapan sehari-hari dapat memiliki nuansa yang berbeda dan bergantung pada konteks.
Karena itulah, orang yang baru mendengar istilah tersebut mungkin membutuhkan waktu untuk memahami maksudnya.
2. “Kitaorang” dan “Kamiorang”
Slang berikutnya yang cukup menarik adalah penggunaan kata ganti “kitaorang” dan “kamiorang”.
Dalam percakapan informal, kedua istilah tersebut dapat digunakan untuk merujuk kepada “kami”, yakni pembicara bersama kelompoknya tetapi tidak termasuk lawan bicara.
Selain itu, terdapat pula bentuk “kamuorang” atau “lorang” yang digunakan untuk merujuk kepada lebih dari satu orang yang menjadi lawan bicara.
Sementara itu, kata “diorang” dapat digunakan untuk menyebut orang lain atau kelompok yang sedang dibicarakan.
Penggunaan bentuk-bentuk tersebut membuat percakapan terdengar khas bagi sebagian penutur di Lampung.
Bagi pendatang, penggunaan kata ganti tersebut terkadang cukup membingungkan karena bentuknya berbeda dari bahasa Indonesia baku yang biasa digunakan dalam situasi formal.
3. “Basing”
Pernah mendengar orang Lampung mengatakan:
“Basing aja.”
Bagi sebagian pendatang, kata tersebut mungkin terdengar seperti nama seseorang atau istilah yang tidak memiliki hubungan dengan percakapan.
Dalam slang yang digunakan sebagian masyarakat Lampung, “basing” dapat digunakan dengan makna “terserah” atau membebaskan pilihan kepada lawan bicara.
Contohnya ketika seseorang bertanya:
“Malam ini mau makan di mana?”
Kemudian dijawab:
“Basing aja, gua ngikut.”
Artinya kurang lebih, “Terserah saja, saya ikut.”
Kata ini biasanya muncul dalam percakapan santai antarteman dan bukan merupakan bentuk bahasa Indonesia baku.
4. “Kongek” atau “Ngongek”
Istilah lainnya adalah “kongek” atau “ngongek”.
Dalam penggunaan slang yang dijelaskan oleh penutur lokal, kata tersebut berkaitan dengan tindakan menjelekkan atau mengejek seseorang secara langsung, biasanya dilakukan di hadapan teman-teman.
Namun, konteksnya tidak selalu bermaksud serius. Dalam pergaulan, istilah tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan kegiatan saling meledek atau menjadikan teman sebagai bahan candaan.
Misalnya, ketika seseorang sedang melakukan kesalahan kecil kemudian teman-temannya terus mengungkitnya untuk bercanda, situasi tersebut bisa disebut sebagai “ngongek”.
Karena sangat bergantung pada konteks, penggunaan kata ini sebaiknya melihat hubungan antara orang yang berbicara dan orang yang menjadi lawan bicara.
5. “Paleng”
Ada pula kata “paleng” yang digunakan dalam percakapan informal.
Dalam penggunaan tertentu, kata ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pusing, kesal, jengkel atau sudah kewalahan menghadapi suatu keadaan.
Misalnya mahasiswa yang sedang menghadapi banyak tugas dan tenggat waktu dapat mengatakan bahwa dirinya sedang “paleng”.
Kata tersebut dapat muncul sebagai bentuk ekspresi spontan ketika seseorang merasa sudah terlalu banyak menghadapi persoalan.
Namun, seperti slang lainnya, nuansa “paleng” dapat berubah sesuai konteks percakapan dan lingkungan penggunaannya.
6. Kata Sapaan “Yay”, “Boi” dan “Doy”
Selain kosakata, percakapan sehari-hari di Lampung juga memiliki sejumlah kata sapaan yang menarik.
Salah satunya adalah “Yay”, yang dalam penggunaan tertentu berkaitan dengan sapaan kepada kakak laki-laki.
Kemudian ada “Boi”, yang digunakan sebagai sapaan dalam pergaulan, terutama kepada teman sebaya atau orang yang lebih muda.
Pengucapannya kurang lebih seperti kata “boy” dalam bahasa Inggris.
Ada juga sapaan “Doy” yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Lampung.
Dalam penggunaan informal tertentu, “doy” dapat digunakan sebagai panggilan bernuansa akrab atau sayang. Kata tersebut juga memiliki kaitan dengan sebutan bagi penggemar grup musik Kangen Band.
Penggunaan sapaan tersebut menunjukkan bahwa bahasa pergaulan tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kedekatan antara orang yang sedang berbicara.
Slang Lampung Tidak Selalu Dipahami Semua Orang
Keberadaan slang dalam percakapan sehari-hari merupakan hal yang umum dalam perkembangan bahasa.
Setiap daerah dan kelompok masyarakat dapat memiliki kosakata informal yang berkembang dari kebiasaan pergaulan, bahasa daerah, maupun pengaruh bahasa dari lingkungan sekitarnya.
Di Lampung, penggunaan sejumlah kata seperti “geh”, “tah”, “basing” dan “kitaorang” dapat menjadi bagian dari percakapan informal sebagian masyarakat.
Namun, istilah tersebut tidak selalu digunakan oleh semua warga Lampung. Penggunaannya dapat berbeda berdasarkan daerah, kelompok pergaulan, usia, serta kebiasaan masing-masing penutur.
Karena itu, pendatang tidak perlu khawatir jika pada awalnya merasa bingung ketika mendengar percakapan lokal.
Justru dari kosakata-kosakata sederhana seperti inilah seseorang bisa mulai mengenal karakter bahasa pergaulan di suatu daerah.
Bagi masyarakat lokal, kata-kata tersebut mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi orang yang baru datang, satu kata saja terkadang sudah cukup untuk membuat mereka bertanya:
“Maksudnya apa, geh?”








