News

Lampung Tapis Karnaval 2026 Jadi Panggung Bersama, Gubernur Mirza: Bukan Sekadar Acara Pemerintah

Gubernur Lampung Mirza menyebut Lampung Tapis Karnaval 2026 sebagai panggung bersama untuk budaya, kolaborasi dan penguatan ekonomi masyarakat.

Lampung Tapis Karnaval 2026 Jadi Panggung Bersama, Gubernur Mirza: Bukan Sekadar Acara Pemerintah
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri Lampung Tapis Karnaval di Bandar Lampung
Daftar Isi
  1. Lampung Tapis Karnaval Jadi Panggung Masyarakat
  2. Tampilkan Keberagaman Budaya Lampung
  3. Generasi Muda Turut Meramaikan Karnaval
  4. Festival Krakatau Harus Berdampak ke Ekonomi
  5. 35 Tahun Festival Krakatau
  6. Krakatau Jadi Pintu Mengenalkan Lampung
  7. Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata

LAMPUNGINSIGHT.NET, BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan Lampung Tapis Karnaval 2026 bukan sekadar agenda pemerintah. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi panggung bersama untuk menunjukkan keberagaman budaya sekaligus semangat kolaborasi masyarakat Lampung.

Hal itu disampaikan Gubernur Mirza saat menghadiri Lampung Tapis Karnaval 2026 di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung, Minggu (30/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Mirza bersama Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan melakukan flag off sebagai tanda dimulainya rangkaian karnaval yang menjadi bagian dari Festival Krakatau XXXV 2026.

Lampung Tapis Karnaval Jadi Panggung Masyarakat

Gubernur Mirza mengatakan penyelenggaraan Lampung Tapis Karnaval melibatkan berbagai unsur masyarakat. Mulai dari pemerintah, komunitas, lembaga adat hingga generasi muda ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa Festival Krakatau dan Lampung Tapis Karnaval bukan hanya milik pemerintah.

“Acara ini bukan hanya milik pemerintah, tapi ini adalah acara kita bersama. Acara seluruh komunitas, lembaga adat, dan teman-teman semua,” ujar Mirza.

Ia menilai karnaval tersebut menjadi gambaran bagaimana berbagai kelompok di Lampung dapat berkolaborasi dalam satu kegiatan.

Keberagaman suku, budaya dan latar belakang masyarakat juga menjadi bagian yang ingin ditampilkan melalui kegiatan tersebut.

Tampilkan Keberagaman Budaya Lampung

Lampung memiliki masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam. Menurut Mirza, kondisi tersebut justru menjadi kekuatan yang dapat ditampilkan kepada masyarakat luas maupun wisatawan.

“Kita beragam budaya. Lampung sendiri dari berbagai macam marga dan budaya. Di sini juga dari berbagai macam suku dan bangsa, tapi kita ingin bersatu hidup rukun dan damai sudah ratusan tahun,” katanya.

Bagi pemerintah daerah, keberagaman tersebut merupakan modal penting dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kegiatan seperti Lampung Tapis Karnaval menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan identitas budaya Lampung dalam kemasan yang lebih terbuka dan menarik bagi masyarakat.

Generasi Muda Turut Meramaikan Karnaval

Selain keberagaman budaya, Gubernur Mirza juga menyoroti tingginya keterlibatan generasi muda dalam Lampung Tapis Karnaval.

Ia melihat banyak peserta berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan budaya Lampung.

“Kalau dilihat hampir semua anak-anak muda yang ikut. Umurnya SMA, kuliah. Ini menunjukkan kita punya SDM yang banyak, yang semangat, yang cinta dengan budaya dan kultur,” ujar Mirza.

Menurutnya, keterlibatan anak muda sangat penting karena keberlangsungan budaya tidak hanya bergantung pada kegiatan seremonial, tetapi juga bagaimana generasi berikutnya mengenal dan ikut mempraktikkannya.

Karena itu, ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan budaya dinilai perlu terus diperluas.

Lampung Tapis Karnaval 2026

Festival Krakatau Harus Berdampak ke Ekonomi

Gubernur Mirza juga mengingatkan agar Festival Krakatau tidak berhenti sebagai kegiatan hiburan maupun pertunjukan budaya.

Menurutnya, keberhasilan sebuah festival juga harus dilihat dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Keberhasilan pariwisata bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang, tapi juga berapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ucapnya.

Ia berharap semakin banyak wisatawan yang datang ke Lampung dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha lokal, sektor kuliner, ekonomi kreatif hingga masyarakat yang terlibat dalam industri pariwisata.

Dengan demikian, festival tidak hanya menghasilkan keramaian selama kegiatan berlangsung, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

35 Tahun Festival Krakatau

Festival Krakatau telah menjadi salah satu agenda pariwisata yang memiliki perjalanan panjang di Provinsi Lampung.

Pada 2026, penyelenggaraan Festival Krakatau telah memasuki usia ke-35 tahun.

Mirza mengatakan perjalanan selama 35 tahun menunjukkan bahwa Festival Krakatau telah menjadi bagian dari identitas daerah.

“Festival Krakatau telah menemani perjalanan Provinsi Lampung selama 35 tahun. 35 tahun tentunya bukan waktu yang singkat. Artinya, Festival Krakatau sudah menjadi bagian dari identitas Provinsi Lampung,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan festival tersebut perlu terus dikembangkan agar relevan dengan kebutuhan pariwisata dan ekonomi masyarakat saat ini.

Krakatau Jadi Pintu Mengenalkan Lampung

Lampung memiliki berbagai potensi wisata yang dapat dikembangkan, mulai dari kawasan pegunungan, laut, pantai, hutan hingga kekayaan budaya masyarakat.

Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan pariwisata daerah.

Dalam konteks Festival Krakatau, Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu simbol yang memiliki keterkaitan kuat dengan identitas pariwisata Lampung.

Mirza berharap nama Krakatau dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal berbagai potensi lain yang dimiliki Lampung.

“Tentunya kita ingin menjadikan Krakatau ini adalah pintu bagaimana dunia mengenal Provinsi Lampung,” kata Mirza.

Menurutnya, wisatawan yang datang ke Lampung diharapkan tidak hanya mengikuti acara festival, tetapi juga menikmati berbagai destinasi dan produk lokal.

Mulai dari budaya, wisata alam, kuliner, produk ekonomi kreatif hingga keramahan masyarakat menjadi bagian dari pengalaman yang perlu diperkenalkan kepada wisatawan.

Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata

Semangat kolaborasi yang terlihat dalam Lampung Tapis Karnaval diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian Festival Krakatau selesai.

Pemerintah, komunitas, lembaga adat, pelaku usaha dan generasi muda memiliki peran masing-masing dalam mengembangkan pariwisata sekaligus menjaga budaya daerah.

Mirza menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar berbagai agenda pariwisata di Lampung dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

“Ini memberikan pengertian bahwa ini bukan acara pemerintah, tapi ini adalah acara seluruh masyarakat Provinsi Lampung sendiri. Semangat ini yang kami salurkan, akhirnya menjadi motivasi semua bersatu padu berkolaborasi,” ujarnya.

Melalui Lampung Tapis Karnaval dan Festival Krakatau XXXV, Pemerintah Provinsi Lampung ingin memperlihatkan bahwa kekayaan budaya dapat berjalan beriringan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Bagi Lampung, festival bukan hanya soal kemeriahan acara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat identitas budaya, memperluas promosi wisata dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.(*)

Mungkin Anda Suka