Pendidikan

Mahasiswa Itera Kembangkan Robustera, Pengering Kopi Berbasis Biomassa dan Energi Surya

Mahasiswa Itera mengembangkan Robustera, alat pengering kopi berbasis biomassa dan energi surya yang mampu mengeringkan 15 kg kopi dalam dua jam.

Robustera alat pengering kopi berbasis biomassa dan energi surya buatan mahasiswa Itera
Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Institut Teknologi Sumatera (Itera) | Foto: itera.ac.id
Daftar Isi
  1. Pengeringan Kopi Tak Lagi Bergantung Cuaca
  2. Gabungkan Biomassa dan Energi Surya
  3. Kadar Air Kopi Turun dalam Dua Jam
  4. Petani Nilai Robustera Bantu Tingkatkan Produktivitas
  5. Robustera Disiapkan Menuju PIMNAS 2026

LAMPUNGINSIGHT.NET – Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan teknologi pengering kopi bernama Robustera. Alat ini menggabungkan pemanfaatan biomassa dari limbah kopi dengan energi surya untuk mempercepat proses pengeringan kopi robusta Lampung.

Teknologi tersebut diterapkan bersama Kelompok Tani Sinarbanten di Desa Gunung Sadar, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara. Pengembangan dan penerapan Robustera dilakukan melalui skema Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI).

Tim PKM Itera ini dibina oleh Fadli Hastito, M.T., dosen Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi. Anggota tim terdiri dari Egi Setiawan sebagai ketua, bersama Julius Lionel Gustalvo, Muhammad Rizki Saputra, Rahmat Ramadhan, dan Yolanda Novelin.

Pengeringan Kopi Tak Lagi Bergantung Cuaca

Ketua tim, Egi Setiawan, menjelaskan bahwa Robustera dikembangkan karena proses pengeringan kopi di tingkat petani masih banyak mengandalkan kondisi cuaca.

Dalam metode konvensional, kopi membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 14 hari untuk mencapai kadar air yang sesuai standar. Kondisi tersebut menjadi kendala ketika cuaca kurang mendukung, terutama saat intensitas hujan tinggi.

Robustera dirancang untuk memberikan alternatif pengeringan yang lebih cepat dengan memanfaatkan limbah dari proses pengolahan kopi.

Sekam, kulit cangkang, dan kulit ari kopi dimanfaatkan sebagai bahan bakar biomassa yang terlebih dahulu diolah menjadi briket.

Pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya menjadi sumber energi alternatif. Menurut tim pengembang, penggunaan biomassa juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap cuaca sekaligus menekan asap yang berpotensi memengaruhi kualitas biji kopi.

Gabungkan Biomassa dan Energi Surya

Salah satu keunggulan Robustera terletak pada sistem hibrida yang digunakan. Alat ini menggabungkan energi dari biomassa dengan energi surya dalam satu sistem pengeringan.

Panel surya digunakan untuk mendukung operasional sejumlah komponen, mulai dari blower, sistem monitoring hingga heater yang berfungsi sebagai pemanas tambahan.

Ketika alat mulai dioperasikan, heater akan memanaskan filamen selama sekitar 90 detik. Setelah itu, blower bekerja secara otomatis untuk memperbesar bara sekaligus mengalirkan panas menuju ruang pengering.

Suhu di dalam ruang pengering dipantau melalui sistem monitoring. Ketika suhu mencapai lebih dari 50 derajat Celsius, kecepatan blower akan diturunkan secara otomatis agar temperatur tetap terkendali.

Sistem tersebut dirancang agar proses pengeringan berlangsung lebih stabil dan tidak terlalu bergantung pada kondisi lingkungan di luar alat.

Kadar Air Kopi Turun dalam Dua Jam

Hasil pengujian menunjukkan kemampuan Robustera dalam mempercepat proses pengeringan kopi.

Pada pengujian dengan kapasitas 15 kilogram kopi, alat tersebut mampu menurunkan kadar air dari 30,5 persen menjadi 10 persen dalam waktu sekitar dua jam.

Proses tersebut menggunakan sebanyak 20 briket biomassa sebagai sumber energi.

Capaian ini menjadi salah satu hasil penting dalam penerapan teknologi Robustera kepada kelompok tani. Selain digunakan untuk kopi, sistem pengering tersebut juga memiliki potensi diterapkan pada komoditas pertanian lainnya.

Beberapa komoditas yang berpotensi dikeringkan menggunakan teknologi serupa antara lain pinang, kakao, dan padi.

Petani Nilai Robustera Bantu Tingkatkan Produktivitas

Penerapan Robustera mendapat respons positif dari pihak mitra. Candra Darussman selaku perwakilan mitra desa mengatakan teknologi tersebut membantu meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung peningkatan kualitas dalam proses pengolahan kopi.

Sebelumnya, proses pengeringan kopi dapat membutuhkan waktu hingga sekitar dua minggu. Dengan Robustera, proses tersebut dapat dipangkas menjadi hanya beberapa jam.

Bagi petani, waktu pengeringan menjadi salah satu faktor penting karena berpengaruh terhadap kelancaran tahapan pengolahan setelah panen.

Kehadiran teknologi pengering yang tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca juga dapat memberikan alternatif ketika proses penjemuran secara konvensional mengalami kendala.

Robustera Disiapkan Menuju PIMNAS 2026

Program pengembangan Robustera sebelumnya harus melewati seleksi internal di lingkungan Itera. Setelah itu, proposal tim berhasil lolos seleksi tingkat nasional dan memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Setelah diterapkan kepada kelompok tani mitra, Robustera selanjutnya akan mengikuti Penilaian Kemajuan Pelaksanaan PKM (PKP2).

Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi sebelum tim mengajukan diri untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026.

Pengembangan Robustera menunjukkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani secara langsung. Dengan memanfaatkan limbah kopi sebagai sumber energi dan dukungan tenaga surya, teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi solusi pengeringan yang lebih cepat, efisien, dan dapat dikembangkan untuk komoditas pertanian lainnya di Lampung.

Mungkin Anda Suka