Lampung Insight – Tingginya konsumsi mie instan di Indonesia terus menjadi perhatian, terutama terkait dampak kesehatan dan meningkatnya limbah plastik dari kemasan sekali pakai. Kondisi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia menghadirkan inovasi pangan yang lebih sehat sekaligus ramah lingkungan.
Melalui produk bernama LARUMIE, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknokrat Indonesia mencoba menawarkan alternatif mie instan berbahan dasar singkong lokal dengan konsep yang lebih modern dan berkelanjutan.
Produk tersebut dikembangkan menggunakan teknologi edible coating, yakni metode pelapisan bumbu langsung pada permukaan mie tanpa memerlukan kemasan plastik tambahan seperti mie instan pada umumnya.
Inovasi ini dinilai menjadi solusi baru bagi masyarakat yang ingin tetap menikmati makanan praktis, namun dengan pilihan yang lebih sehat dan minim limbah.
LARUMIE Jadi Inovasi Pangan Modern Karya Mahasiswa Teknokrat
LARUMIE dikembangkan oleh empat mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Teknokrat Indonesia, yaitu Adelina Safitri, Deni Setiawan, Yayang Evina Syaputri, dan Yuzika Fitriya.
Mereka memanfaatkan singkong sebagai bahan utama karena dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi.
Baca Juga: ITERA Siapkan Kawasan Komersial Baru, Berpotensi Jadi Pusat Aktivitas dan UMKM
Selain mudah diperoleh di Lampung, singkong juga dikenal sebagai salah satu komoditas lokal yang cukup melimpah dan selama ini banyak dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai olahan makanan tradisional.
Di tengah aktivitas perkuliahan yang padat, tim mahasiswa tersebut juga aktif memperkenalkan produk LARUMIE kepada sivitas akademika kampus.
Salah satu pengembang produk, Yayang Evina Syaputri, mengatakan inovasi tersebut lahir dari keresahan terhadap pola konsumsi masyarakat yang masih tinggi terhadap makanan instan, tetapi minim pilihan sehat.
“Kami ingin menghadirkan produk mie instan yang lebih sehat sekaligus ramah lingkungan. Singkong dipilih karena mudah diperoleh dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan singkong lokal juga menjadi bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan nasional dan pengembangan komoditas daerah.
Singkong Lokal Lampung Diolah Menjadi Produk Bernilai Tinggi
Proses produksi LARUMIE dimulai dari pemilihan singkong berkualitas yang kemudian dibersihkan dan diolah menjadi tepung sebagai bahan dasar mie.
Setelah itu, tepung singkong dicampur dengan bahan alami lainnya tanpa penggunaan pengawet berlebihan agar tetap aman dikonsumsi.
Adonan yang telah terbentuk kemudian dicetak menggunakan mesin khusus hingga menghasilkan tekstur mie yang lembut dan elastis.
Baca Juga: Jadwal SPMB SMA Negeri Lampung 2026 Lengkap dengan Syarat dan Cara Daftar
Penggunaan bahan lokal menjadi salah satu nilai penting dalam pengembangan produk ini karena dinilai mampu membantu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian daerah.
Selain itu, produk berbahan singkong juga mulai banyak diminati karena dianggap memiliki kandungan yang lebih sehat dibanding tepung terigu biasa.
Melalui inovasi tersebut, mahasiswa Teknokrat mencoba menghadirkan produk pangan modern yang tetap memanfaatkan sumber daya lokal.
Teknologi Edible Coating Kurangi Limbah Plastik
Keunggulan utama LARUMIE terletak pada penerapan teknologi edible coating yang membuat bumbu langsung menyatu pada permukaan mie.
Berbeda dengan mie instan konvensional yang menggunakan bumbu dalam kemasan plastik terpisah, metode ini membuat penggunaan plastik dapat dikurangi secara signifikan.
Teknologi tersebut juga membuat produk menjadi lebih praktis karena konsumen tidak perlu lagi membuka kemasan bumbu tambahan saat menyajikan mie.
Yuzika Fitriya menjelaskan inovasi ini menjadi fokus utama pengembangan produk mereka.
“Inovasi edible coating menjadi nilai utama produk kami karena mampu menggabungkan aspek kesehatan, efisiensi, dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Setelah proses pelapisan selesai, mie kemudian dikeringkan untuk meningkatkan daya tahan produk sebelum akhirnya dikemas menggunakan desain modern dan menarik.
Seluruh proses produksi dilakukan secara higienis guna menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Kampus Teknokrat Apresiasi Kreativitas Mahasiswa
Inovasi mahasiswa ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak di lingkungan kampus.
Wakil Dekan III FEB Universitas Teknokrat Indonesia, Febrian Eko Saputra, menilai LARUMIE menjadi contoh nyata kreativitas mahasiswa dalam menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan melalui inovasi berbasis kewirausahaan.
Menurutnya, pemanfaatan singkong lokal yang dipadukan dengan teknologi modern menunjukkan bahwa inovasi sederhana juga dapat memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan.
Sementara itu, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Nasrullah Yusuf, mengaku bangga atas kreativitas mahasiswa dalam menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Kami bangga mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia mampu menghadirkan inovasi yang menggabungkan kreativitas, teknologi, dan semangat kewirausahaan dalam satu produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui inovasi LARUMIE, Universitas Teknokrat Indonesia kembali menunjukkan kontribusinya dalam mendukung pengembangan inovasi berbasis potensi lokal dan pembangunan berkelanjutan di bidang pangan.







