Daftar Isi
LAMPUNGINSIGHT.NET, — Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) menghadirkan inovasi produk perawatan tubuh berbasis bahan alami melalui Covalera, sabun mandi berbentuk foam yang dirancang untuk membantu merawat kulit sensitif sekaligus memanfaatkan hasil samping pertanian lokal.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) Unila dan berhasil memperoleh pendanaan resmi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 dari kementerian terkait.
Covalera dikembangkan dengan menggabungkan bahan-bahan alami yang memiliki fungsi berbeda dalam perawatan kulit. Produk ini juga membawa konsep kewirausahaan berbasis riset atau technopreneurship dengan memanfaatkan potensi komoditas perkebunan yang tersedia di Lampung.

Dikembangkan Lima Mahasiswa Unila
Tim Covalera diketuai Pandu Lintang Nugroho dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian.
Ia bersama empat anggota lainnya, yakni Wayan Lindayani dari Akuntansi, Aurelle Yoroshi Siagian dari Teknologi Hasil Pertanian, Ratna Puspa Dewi dari Teknologi Industri Pertanian, serta Billal Pasha Hendriyadi dari Teknik Kimia.
Tim tersebut mendapat pendampingan dari dosen Esa Ghanim Fadhallah, S.Pi., M.Si.
Menurut Pandu, ide pengembangan Covalera berangkat dari persoalan kulit sensitif yang cukup banyak dialami masyarakat. Penggunaan sabun konvensional dengan bahan surfaktan sintetis seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) pada sebagian orang dapat memicu keluhan seperti kulit kering maupun iritasi.
Di sisi lain, Lampung memiliki berbagai komoditas perkebunan yang potensial untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
“Kami ingin menghadirkan pembersih alami yang lembut, efektif mengangkat kotoran, dan tetap menjaga kelembapan kulit,” kata Pandu. dikutip dari unila.ac.id
Menggunakan Kulit Kakao, Lerak dan Lidah Buaya
Covalera menggunakan tiga bahan alami utama yang memiliki fungsi berbeda.
Pertama adalah ekstrak kulit kakao yang dimanfaatkan karena memiliki kandungan yang berpotensi berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba alami.
Kedua, buah lerak (Sapindus rarak) digunakan sebagai sumber surfaktan alami. Kandungan saponin dalam lerak menghasilkan busa sehingga dapat menjadi alternatif bahan pembersih dalam formulasi sabun.
Bahan ketiga adalah lidah buaya (Aloe vera) yang digunakan sebagai humektan untuk membantu mempertahankan kelembapan kulit.
Kombinasi ketiga bahan tersebut menjadi salah satu karakter utama Covalera sebagai produk sabun foam yang menyasar konsumen dengan kebutuhan perawatan kulit yang lebih lembut.
Ekstrak Kulit Kakao Diolah Menjadi Nanopartikel
Salah satu aspek yang menjadi nilai kebaruan Covalera adalah teknologi pengolahan ekstrak kulit kakao.
Tim mengembangkan ekstrak tersebut dalam skala nanopartikel dengan ukuran di bawah 100 nanometer. Pengecilan ukuran partikel ini ditujukan untuk meningkatkan kelarutan dan stabilitas bahan aktif serta mendukung efektivitas penyerapannya pada lapisan kulit.
Pemanfaatan kulit kakao juga menjadi bagian dari upaya tim untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil samping komoditas pertanian dan perkebunan lokal.
Dengan pendekatan tersebut, Covalera tidak hanya diarahkan sebagai produk perawatan tubuh, tetapi juga sebagai inovasi yang menghubungkan potensi bahan baku lokal dengan teknologi pengolahan.
Dibanderol Rp32.000 per Botol
Selain mengutamakan bahan alami, Covalera membawa konsep produk yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Produk dikemas menggunakan botol bioplastik PET berukuran 100 mililiter. Harga yang ditawarkan kepada konsumen sebesar Rp32.000 per botol.
Tim juga telah melakukan survei awal untuk mengetahui penerimaan calon konsumen terhadap produk tersebut.
Survei dilakukan terhadap 31 responden berkulit sensitif di Bandar Lampung. Hasilnya, sekitar 90 persen responden menyatakan memiliki minat tinggi untuk beralih menggunakan Covalera.
Hasil survei tersebut menjadi salah satu indikator awal bahwa produk memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai usaha berbasis riset.
Tim Siapkan Legalitas dan Pengujian Produk
Pengembangan Covalera tidak berhenti pada formulasi dan pemasaran awal. Tim bersama dosen pendamping juga tengah mempersiapkan berbagai aspek legalitas dan standarisasi produk.
Dosen pendamping Esa Ghanim Fadhallah memberikan pendampingan kepada tim dalam proses pengembangan tersebut.
Tahap yang dipersiapkan mencakup standarisasi mutu, pengujian keamanan pada kulit, perizinan edar BPOM, serta pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Langkah tersebut penting dilakukan agar produk yang dikembangkan mahasiswa tidak hanya memiliki nilai inovasi, tetapi juga memenuhi aspek keamanan, mutu, dan ketentuan yang berlaku sebelum dipasarkan secara lebih luas.
Dorong Hilirisasi Riset Mahasiswa
Kehadiran Covalera menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan penelitian dan kreativitas mahasiswa dapat diarahkan menjadi produk komersial.
Dengan memanfaatkan kulit kakao, lerak, dan lidah buaya, tim mencoba mengembangkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Inovasi tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan wirausaha berbasis riset di lingkungan perguruan tinggi.
Tim Covalera berharap produk tersebut dapat terus dikembangkan menjadi salah satu produk hilirisasi unggulan Universitas Lampung yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Di sisi lain, pemanfaatan hasil samping pertanian dan komoditas lokal diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi potensi perkebunan Lampung sekaligus mendorong lahirnya inovasi mahasiswa yang berorientasi pada keberlanjutan.








