Daftar Isi
LAMPUNGINSIGHT.NET – Proyek infrastruktur mitigasi konflik manusia-gajah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, dengan anggaran Rp850 miliar kini mencapai progres 82 persen. Meski begitu, penyelesaian proyek ini masih menyisakan satu isu krusial di lapangan: bagaimana memastikan tanggul yang dibangun tidak memutus akses petani menuju lahan pertanian mereka.
Bukan Soal Menolak, Tapi Soal Akses
Berbeda dari kesan penolakan proyek pada umumnya, warga Desa Sukorahayu sebenarnya tidak keberatan dengan keberadaan tanggul itu sendiri. Kepala Desa Sukorahayu, Apria Sahdi, menjelaskan bahwa tanggul yang sedang ditinggikan ini bukan bangunan baru — infrastruktur penahan banjir di lokasi tersebut sudah eksis sejak lama, jauh sebelum warga membeli lahan di sekitarnya.
“Kalau bicara tanggul dipindahkan, sebelum mereka beli tanah tersebut sudah ada tanggul penahan banjir, dan komite ini hanya meninggikan badan eksisting tanggul yang sudah ada,” ujar Apria dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).
Solusi yang tengah disepakati adalah pembuatan pintu akses khusus pada badan tanggul, sehingga alat pertanian seperti handtraktor tetap bisa melintas menuju sawah tanpa harus memutar jauh.
Tantangan Teknis: Tanah Labil
Ketua Komisi Gabungan dan Mitigasi Interaksi Negatif Gajah Way Kambas, Brigjen Sriyanto, mengungkapkan progres 82 persen ini juga tertahan oleh kondisi tanah labil di sejumlah titik, yang membutuhkan tahapan pengerjaan tambahan. Kendala pasokan material — khususnya besi dan semen — turut memperlambat capaian target di lapangan.
Dampak Ekonomi Ikutan bagi Warga Sekitar
Di luar isu teknis dan akses lahan, proyek mitigasi ini rupanya membawa efek berantai terhadap ekonomi lokal. Berdasarkan catatan Komisi Gabungan, sekitar 1.091 orang telah terlibat atau terdampak langsung dari aktivitas proyek ini. Pertumbuhan itu terlihat dari menjamurnya warung, penginapan, dan rumah sewaan baru di sekitar kawasan proyek — sebuah gambaran bagaimana proyek infrastruktur besar sering kali menghidupkan ekonomi mikro di sekitarnya, bahkan sebelum proyek utamanya rampung.
Program ini turut disertai pemberdayaan masyarakat lewat pengembangan wisata, budidaya lebah, dan tanaman serai — inisiatif yang bisa menjadi sumber penghasilan alternatif jangka panjang bagi warga di sekitar kawasan konservasi.
Konteks: Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas
Way Kambas selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi gajah terbesar di Sumatra, namun ekspansi lahan pertanian di sekitarnya kerap memicu gesekan antara satwa liar dan warga. Proyek tanggul senilai Rp850 miliar ini menjadi salah satu upaya mitigasi berskala besar untuk menekan konflik tersebut — namun seperti terlihat dari kasus Sukorahayu, keberhasilan mitigasi ekologis juga perlu diimbangi dengan solusi yang tidak mengorbankan mata pencaharian warga setempat.
Ke depan, tantangan utama bukan sekadar menuntaskan sisa 18 persen pembangunan fisik, melainkan juga memastikan koeksistensi yang berkelanjutan antara kepentingan konservasi, infrastruktur, dan penghidupan warga di sekitar kawasan.








