News

Antrean Biosolar di Lampung Mengular, Pertamina Tegaskan Tidak Ada Pengurangan Suplai

Antrean Biosolar terjadi di sejumlah SPBU Lampung. Pertamina memastikan tidak ada pengurangan suplai dan mencatat konsumsi naik 14,9 persen.

Antrean Biosolar di Lampung Mengular, Pertamina Tegaskan Tidak Ada Pengurangan Suplai
Ilustrasi Antrian SPBU Lampung
Daftar Isi
  1. Konsumsi Biosolar Lampung Naik 14,9 Persen
  2. Stok Biosolar di Terminal Panjang Dipantau
  3. Antrean Terjadi di SPBU dengan Konsumsi Tinggi
  4. Sopir Truk Keluhkan Antrean Berjam-jam

LAMPUNGINSIGHT.NET, BANDAR LAMPUNG – Antrean kendaraan truk di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Lampung menjadi perhatian setelah sejumlah sopir mengeluhkan waktu tunggu yang panjang untuk mendapatkan Biosolar.

PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan adanya pengurangan penyaluran Biosolar. Pertamina menyatakan suplai tetap berjalan dan distribusi ke SPBU terus disesuaikan dengan tingkat konsumsi serta kondisi stok di lapangan.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi menegaskan tidak ada kebijakan pengurangan penyaluran Biosolar.

“Tidak ada kebijakan pengurangan penyaluran Biosolar oleh Pertamina,” ujar Rusminto dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).

Menurut dia, Pertamina justru terus mengoptimalkan pasokan dengan menyesuaikan pola pengiriman ke SPBU berdasarkan kebutuhan di masing-masing wilayah.

Konsumsi Biosolar Lampung Naik 14,9 Persen

Pertamina mencatat konsumsi Biosolar di Lampung mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

Rata-rata penyaluran Biosolar naik dari sekitar 2.178 kiloliter (KL) per hari pada periode Januari-April 2026 menjadi sekitar 2.503 KL per hari pada Mei-Agustus 2026.

Dengan demikian, rata-rata penyaluran meningkat sekitar 14,9 persen.

Pertamina menyebut peningkatan konsumsi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, sektor pariwisata, pertumbuhan kendaraan bermotor, hingga adanya disparitas harga dengan BBM diesel nonsubsidi.

Secara kumulatif, realisasi penyaluran Biosolar sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai sekitar 569.332 KL. Angka tersebut meningkat 11,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sekitar 509.860 KL.

Stok Biosolar di Terminal Panjang Dipantau

Dari sisi ketersediaan, Pertamina memastikan stok Biosolar di Integrated Terminal Panjang terus dipantau untuk menjaga kelancaran distribusi ke SPBU.

Pada 11 September 2026, kapal Kirana Tritya tiba dengan membawa sekitar 11.000 KL Biosolar untuk menambah ketersediaan produk. Sementara kapal Pagerungan dengan muatan sekitar 10.700 KL dijadwalkan tiba pada 13 September 2026.

Pertamina juga mencatat realisasi penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar hingga 6 September 2026 telah mencapai sekitar 585.140 KL atau sekitar 108 persen dari kuota proporsional pada periode tersebut.

Kuota JBT Biosolar sendiri ditetapkan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Lampung telah mengajukan permohonan penambahan kuota JBT dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) kepada BPH Migas.

Rusminto mengatakan Pertamina siap mendukung evaluasi kebutuhan BBM subsidi di daerah dengan menyediakan data realisasi penyaluran dan kesiapan operasional.

“Pertamina mendukung evaluasi kebutuhan BBM subsidi di daerah melalui penyediaan data realisasi penyaluran dan kesiapan operasional. Untuk penetapan maupun penyesuaian kuota merupakan kewenangan regulator, dalam hal ini BPH Migas,” jelasnya, dikutip dari kompas.com.

Antrean Terjadi di SPBU dengan Konsumsi Tinggi

Meski memastikan tidak ada pengurangan suplai, Pertamina mengakui antrean kendaraan memang terjadi di sejumlah SPBU di Lampung.

Antrean terutama ditemukan pada SPBU yang memiliki tingkat konsumsi Biosolar tinggi. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pertamina melakukan penyesuaian volume dan pola pengiriman.

SPBU dengan tingkat konsumsi tinggi menjadi salah satu prioritas distribusi. Pertamina juga memperkuat pemantauan stok dan penjualan untuk menjaga ketersediaan BBM di lapangan.

Selain memastikan pasokan, pengawasan terhadap penyaluran BBM subsidi juga diperketat agar Biosolar diterima oleh konsumen yang sesuai dengan ketentuan.

Pengawasan dilakukan melalui penerapan QR Code, pemantauan transaksi, pemeriksaan terhadap indikasi transaksi tidak wajar, serta koordinasi dengan pemerintah daerah, BPH Migas dan aparat penegak hukum.

Sepanjang 2026, Pertamina menyebut telah melakukan pembinaan terhadap 69 SPBU di Provinsi Lampung. Selain itu, sebanyak 2.793 QR Code diblokir setelah hasil evaluasi menunjukkan adanya indikasi ketidaksesuaian dengan ketentuan penyaluran BBM subsidi.

Sopir Truk Keluhkan Antrean Berjam-jam

Keluhan mengenai antrean Biosolar sebelumnya disampaikan sejumlah sopir truk. Salah satunya terjadi di SPBU 24.351.30, Kelurahan Labuhan Ratu Raya, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, Sabtu (12/9/2026).

Adi (33), sopir truk pengangkut gaplek singkong asal Lambu Kibang, Kabupaten Tulangbawang, mengatakan antrean panjang tidak hanya terjadi di SPBU tersebut.

Menurut dia, kondisi serupa juga ditemui di sejumlah SPBU lain yang dilaluinya, termasuk kawasan Tanjung Bintang.

Adi menyebut antrean Biosolar sudah berlangsung cukup lama dan menjadi persoalan bagi sopir angkutan barang karena waktu perjalanan ikut terdampak.

Di tengah keluhan tersebut, Pertamina memastikan penyaluran Biosolar di Lampung tetap berjalan. Perusahaan menyatakan distribusi akan terus disesuaikan dengan pola konsumsi dan kondisi stok di masing-masing SPBU.

Mungkin Anda Suka