Lifestyle

Tren Gen Z Menikah di KUA Tanpa Resepsi, Ini Alasannya

Sebagian Gen Z memilih menikah di KUA tanpa resepsi besar. Pertimbangan biaya, gaya hidup dan kebutuhan setelah menikah menjadi faktor.

Gen Z melangsungkan akad nikah sederhana di KUA
Ilustrasi : Gen Z melangsungkan akad nikah sederhana di KUA
Daftar Isi
  1. Biaya Pernikahan Menjadi Pertimbangan
  2. Cerita Gen Z yang Memilih Menikah di KUA
  3. Menikah di KUA Tidak Selalu Berarti Sederhana dalam Penampilan
  4. Selebritas Juga Memilih Konsep Pernikahan Sederhana
  5. Tekanan Sosial Masih Menjadi Tantangan
  6. Resepsi Tidak Menjadi Ukuran Ketahanan Rumah Tangga
  7. Angka Pernikahan di Indonesia Juga Menurun
  8. Gen Z Menghitung Kebutuhan Setelah Menikah
  9. Pernikahan Sederhana dan Perubahan Cara Pandang

LAMPUNGINSIGHT.NET – Pernikahan tanpa resepsi besar mulai menjadi pilihan sebagian pasangan Gen Z di Indonesia. Alih-alih menggelar pesta dengan banyak tamu dan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah, mereka memilih melangsungkan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) kemudian mengadakan syukuran sederhana atau bahkan tanpa acara lanjutan.

Pilihan tersebut tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan ekonomi. Bagi sebagian pasangan, menikah secara sederhana merupakan keputusan yang dibuat setelah mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang, mulai dari tempat tinggal, tabungan hingga biaya kehidupan setelah menikah.

Di sisi lain, keputusan tersebut masih berhadapan dengan pandangan sosial. Pernikahan tanpa resepsi terkadang dianggap kurang meriah, bahkan dapat memunculkan berbagai asumsi dari lingkungan sekitar.

Biaya Pernikahan Menjadi Pertimbangan

Besarnya biaya menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian calon pengantin mempertimbangkan kembali konsep pesta pernikahan.

Survei Santika Indonesia Hotels and Resorts pada 2024 menunjukkan 41,9 persen calon pengantin menyiapkan anggaran pernikahan sekitar Rp50 juta hingga Rp100 juta.

Sebanyak 21,9 persen responden bahkan menyiapkan dana antara Rp100 juta hingga Rp200 juta.

Sementara itu, pemberitaan Merdeka pada Juni 2025 menyebut biaya resepsi sederhana di Indonesia dapat berada di kisaran Rp30 juta hingga Rp50 juta. Angka tersebut dapat meningkat ketika jumlah tamu, lokasi acara, katering, dekorasi, dokumentasi dan kebutuhan lainnya bertambah.

Untuk akad nikah di KUA, pemerintah memberikan layanan tanpa biaya apabila pelaksanaannya dilakukan di kantor KUA pada hari dan jam kerja.

Jika akad dilaksanakan di luar kantor KUA atau di luar jam kerja, calon pengantin dikenakan biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp600 ribu.

Perbedaan biaya tersebut membuat sebagian pasangan memilih menggunakan anggaran pernikahan untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih penting setelah menikah.

Cerita Gen Z yang Memilih Menikah di KUA

Salah satu pasangan yang memilih konsep tersebut adalah Seruni Cantika.

Kepada CNBC Indonesia pada Juli 2026, Seruni menceritakan bahwa dirinya tidak menggelar resepsi besar. Setelah akad, ia hanya mengadakan syukuran kecil di sebuah rumah makan Sunda.

Total pengeluaran untuk acara tersebut disebut berada di kisaran Rp6 juta hingga Rp7 juta. Biaya itu digunakan untuk kebutuhan syukuran, tata rias, pakaian serta fotografer.

Menurut Seruni, akad di KUA tidak membutuhkan biaya layanan ketika dilaksanakan sesuai ketentuan.

Pilihan tersebut membuat pasangan dapat mengurangi anggaran yang biasanya digunakan untuk menyewa gedung, dekorasi, katering dalam jumlah besar hingga kebutuhan resepsi lainnya.

Kepala KUA yang diwawancarai CNBC Indonesia dalam laporan yang sama juga melihat adanya pasangan yang memilih konsep pernikahan sederhana.

Menurutnya, salah satu pertimbangannya adalah keinginan pasangan untuk membuat proses pernikahan lebih praktis dengan fokus pada akad atau ijab kabul.

Menikah di KUA Tidak Selalu Berarti Sederhana dalam Penampilan

Perubahan cara pandang terhadap pernikahan di KUA juga terlihat dari sejumlah pasangan yang tetap memperhatikan penampilan meski tidak menggelar resepsi besar.

Pada Juli 2026, Wolipop Detik memberitakan pasangan Janna dan Ronald yang melangsungkan pernikahan di KUA Pulogadung, Jakarta Timur.

Janna mengenakan kebaya putih dengan harga sekitar Rp500 ribu dan menggunakan kain songket pemberian ibunya.

Pernikahan tersebut kemudian mendapat perhatian di media sosial. Pilihan mereka menunjukkan bahwa akad sederhana tidak harus identik dengan persiapan yang seadanya.

Bagi sebagian pasangan, mereka tetap dapat membuat momen pernikahan terlihat personal tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk sebuah pesta.

Selebritas Juga Memilih Konsep Pernikahan Sederhana

Pilihan menikah tanpa resepsi besar juga pernah dilakukan figur publik.

Komika Yono Bakrie menikahi Vini Caroline dengan konsep sederhana di KUA tanpa menggelar pesta besar, sebagaimana diberitakan Genvoice pada Juni 2025.

Yono menyampaikan bahwa dirinya dan pasangan memilih kesederhanaan sebagai bagian dari konsep hubungan mereka.

Fenomena tersebut juga mendapat perhatian dari pelaku industri pernikahan.

Adi Rahzalafna dari SatSet Wedding Organizer menilai pilihan Gen Z menikah di KUA mulai berkaitan dengan perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pesta pernikahan.

Dengan konsep tersebut, pernikahan tidak selalu harus diwujudkan melalui resepsi besar dengan jumlah tamu yang banyak.

Tekanan Sosial Masih Menjadi Tantangan

Meski konsep pernikahan sederhana semakin dikenal, keputusan untuk tidak menggelar resepsi masih dapat menimbulkan pertanyaan dari lingkungan.

Di sejumlah keluarga, resepsi dianggap sebagai bagian penting dari tradisi pernikahan. Acara tersebut bukan hanya menjadi perayaan pasangan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi dua keluarga besar untuk berkumpul.

Karena itu, pasangan yang memilih hanya melakukan akad terkadang menghadapi pertanyaan mengenai alasan tidak mengadakan pesta.

Ada pula anggapan bahwa pernikahan tanpa resepsi dilakukan karena keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi tertentu, bahkan muncul asumsi pribadi mengenai alasan pasangan terburu-buru menikah.

Padahal, keputusan setiap pasangan dapat dipengaruhi banyak faktor dan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan ada atau tidaknya resepsi.

Sebagian pasangan justru memilih mengalokasikan dana yang tersedia untuk kebutuhan setelah menikah, seperti tempat tinggal, dana darurat, pendidikan atau kebutuhan rumah tangga.

Resepsi Tidak Menjadi Ukuran Ketahanan Rumah Tangga

Besarnya pesta pernikahan juga tidak secara otomatis menentukan keberlangsungan sebuah rumah tangga.

Data yang dikutip CNN Indonesia menunjukkan jumlah perceraian di Indonesia meningkat dari 344.237 kasus pada 2014 menjadi 394.608 kasus pada 2024.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pesta pernikahan dan keberlangsungan rumah tangga merupakan dua hal berbeda.

Resepsi merupakan bentuk perayaan, sementara kehidupan pernikahan berlangsung setelah acara selesai.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah pernikahan tidak cukup dilihat dari banyaknya tamu, besarnya dekorasi atau biaya yang dikeluarkan untuk pesta.

Angka Pernikahan di Indonesia Juga Menurun

Tren menikah tanpa resepsi juga muncul di tengah perubahan pola pernikahan masyarakat Indonesia secara lebih luas.

Data Badan Pusat Statistik yang dikutip CNN Indonesia menunjukkan jumlah pernikahan nasional turun dari 2.110.776 pada 2014 menjadi 1.478.302 pada 2024.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk menikah kini dipengaruhi berbagai pertimbangan, termasuk pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi dan perubahan pandangan mengenai kehidupan keluarga.

Guru Besar FISIP Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, sebelumnya menilai meningkatnya kesempatan perempuan untuk mengenyam pendidikan dan bekerja menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan perubahan pola pernikahan.

Faktor ekonomi juga menjadi perhatian karena kesiapan finansial menjadi salah satu pertimbangan ketika seseorang memutuskan untuk membangun rumah tangga.

Gen Z Menghitung Kebutuhan Setelah Menikah

Bagi pasangan yang memilih menikah sederhana, keputusan tersebut tidak berhenti pada persoalan biaya akad.

Ada pertimbangan mengenai bagaimana kehidupan setelah pernikahan akan dijalani.

Dana yang semula dialokasikan untuk pesta dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Misalnya uang muka rumah, menyewa tempat tinggal, membeli perlengkapan rumah tangga, menyiapkan dana darurat atau membangun tabungan bersama.

Pilihan tersebut tentu berbeda pada setiap pasangan. Ada yang tetap menginginkan resepsi karena menjadi bagian dari tradisi keluarga, sementara lainnya merasa akad dan syukuran sederhana sudah cukup.

Keduanya merupakan pilihan yang dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi, kemampuan dan kesepakatan pasangan serta keluarga.

Pernikahan Sederhana dan Perubahan Cara Pandang

Fenomena menikah di KUA tanpa resepsi besar menunjukkan adanya perubahan cara sebagian masyarakat memandang pernikahan.

Pernikahan tidak lagi selalu dikaitkan dengan pesta besar dan jumlah tamu yang banyak. Bagi sebagian pasangan muda, aspek yang lebih penting adalah proses akad dan kehidupan setelah pernikahan.

Namun, perubahan tersebut tidak berarti tradisi resepsi kehilangan makna. Bagi banyak keluarga, resepsi tetap menjadi bagian penting dari budaya dan cara merayakan pernikahan.

Pada akhirnya, konsep pernikahan kembali kepada keputusan masing-masing pasangan.

Ada yang memilih pesta besar, ada yang menggelar resepsi sederhana, dan ada pula yang cukup melaksanakan akad di KUA.

Yang menjadi pembeda bukan semata-mata besarnya pesta, melainkan bagaimana pasangan mempersiapkan kehidupan bersama setelah akad pernikahan berlangsung.

Mungkin Anda Suka