Pendidikan

Green Kampus UTI: 80 Mahasiswa Baru Tanam Herbal dan Tebar 1.200 Ikan

Green Kampus UTI dalam PKKMB 2026 melibatkan 80 mahasiswa baru untuk menanam 30 bibit herbal, merawat 20 tanaman buah dan menebar 1.200 ikan.

Green Kampus UTI: 80 Mahasiswa Baru Tanam Herbal dan Tebar 1.200 Ikan
Mahasiswa baru Universitas Teknokrat Indonesia mengikuti kegiatan Green Kampus di TeknoPark
Daftar Isi
  1. Tanam 30 Bibit Tanaman Herbal
  2. Tebar 1.200 Ikan di TeknoPark
  3. Rektor UTI: Green Kampus Harus Menjadi Budaya
  4. Makna Sang Juara Menurut Mahathir Muhammad
  5. Mahasiswa Diajak Tidak Hanya Fokus pada Perkuliahan
  6. Bagian dari Komitmen Green Campus
  7. Green Kampus Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
  8. Menanam Harapan dari Lingkungan Kampus

LAMPUNGINSIGHT.NET Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) kembali menggelar program Green Kampus sebagai bagian dari rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026.

Kegiatan bertema “Menanam Harapan, Menumbuhkan Kehidupan, Menebar Keberlanjutan” tersebut berlangsung di TeknoPark Universitas Teknokrat Indonesia, Kamis (17/9/2026).

Program ini tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Green Kampus juga diarahkan untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak mahasiswa mulai menjalani kehidupan akademik di kampus.

Sebanyak 80 mahasiswa baru PKKMB 2026 terlibat langsung dalam sejumlah kegiatan lingkungan, mulai dari penanaman tanaman herbal, perawatan tanaman buah hingga penebaran ikan di kawasan TeknoPark.

Tanam 30 Bibit Tanaman Herbal

Penanggung jawab Green Kampus PKKMB 2026, Fadila Shely Amalia, S.Kom., M.Cs., mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai keberlanjutan secara teori, tetapi juga terlibat dalam aksi nyata.

Untuk kegiatan penghijauan, panitia menyiapkan 30 bibit tanaman herbal yang terdiri dari jahe, serai, kunyit dan lengkuas.

Tanaman tersebut dipilih karena memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari sekaligus dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas lahan di lingkungan kampus.

“Untuk penanaman tanaman herbal, kami telah menyiapkan 30 bibit yang terdiri dari jahe, serai, kunyit, dan lengkuas. Sementara itu, sebagai keberlanjutan dari program penghijauan tahun sebelumnya, terdapat 20 tanaman buah yang dilakukan pemupukan dan perawatan agar dapat terus tumbuh dengan baik,” kata Fadila.

Selain menanam tanaman baru, mahasiswa juga dilibatkan dalam perawatan 20 tanaman buah yang telah ditanam melalui program penghijauan pada tahun sebelumnya.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa konsep Green Kampus tidak berhenti pada penanaman pohon atau tanaman, tetapi juga mencakup pemeliharaan agar lingkungan hijau dapat terus berkembang.

Tebar 1.200 Ikan di TeknoPark

Rangkaian Green Kampus juga diisi dengan penebaran ikan di kawasan TeknoPark.

Sebanyak 1.200 ekor ikan disiapkan untuk kegiatan tersebut, terdiri dari 600 ekor ikan nila dan 600 ekor ikan gurame.

Masing-masing jenis ikan terdiri dari lima bungkus dengan isi 120 ekor per bungkus. Dengan demikian, total ikan yang ditebar mencapai 1.200 ekor.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran langsung bagi mahasiswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan perairan dan keseimbangan ekosistem.

TeknoPark tidak hanya dimanfaatkan sebagai ruang terbuka kampus, tetapi juga menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenal pengelolaan lingkungan melalui kegiatan yang sederhana dan aplikatif.

Rektor UTI: Green Kampus Harus Menjadi Budaya

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., mendukung pelaksanaan Green Kampus sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial.

“Green Kampus merupakan bagian dari pendidikan karakter yang kami tanamkan kepada mahasiswa sejak awal. Kami ingin mahasiswa Teknokrat memahami bahwa menjadi Sang Juara bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang bagaimana memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan,” kata Nasrullah.

Ia menilai aktivitas seperti menanam, merawat tanaman dan menjaga ekosistem perlu dilakukan secara berkelanjutan agar dapat berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan mahasiswa.

Nasrullah juga mendorong mahasiswa memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab berbagai persoalan lingkungan.

Menurutnya, teknologi digital, kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), serta Internet of Things (IoT) dapat dikembangkan untuk mendukung berbagai inovasi di bidang lingkungan.

“Kampus harus menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Apa yang dilakukan mahasiswa hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak orang, akan menjadi gerakan yang memberikan dampak lebih luas,” jelasnya.

Makna Sang Juara Menurut Mahathir Muhammad

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., turut memberikan pesan kepada mahasiswa baru dalam kegiatan tersebut.

Ia menekankan bahwa istilah Sang Juara yang melekat pada UTI tidak hanya berkaitan dengan kemenangan dalam kompetisi.

Menurut Mahathir, mahasiswa Sang Juara juga harus mampu melakukan perubahan positif terhadap diri sendiri, lingkungan dan masyarakat.

“Selamat datang di kampusnya Sang Juara. Sang Juara bukan hanya juara dalam perlombaan, tetapi juga juara dalam perubahan, juara dalam motivasi, juara dalam karakter, sifat, dan tingkah laku. Hal-hal tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menjadi juara di kelas,” kata Mahathir.

Ia menilai Green Kampus menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat menerjemahkan kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan langsung.

Mahathir juga mengingatkan mahasiswa bahwa persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan masyarakat. Karena itu, kampanye mengenai kepedulian lingkungan sebaiknya tidak berhenti pada media sosial, tetapi diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

“Hal besar tidak mungkin langsung terwujud tanpa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. Saat ini Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari erupsi gunung, kebakaran hutan, hingga banjir. Perilaku manusia menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian,” tuturnya.

Mahasiswa Diajak Tidak Hanya Fokus pada Perkuliahan

Mahathir juga mendorong mahasiswa baru untuk aktif dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di lingkungan Universitas Teknokrat Indonesia, sejumlah kegiatan terkait lingkungan telah dilakukan, antara lain penanaman pohon bersama TNI dan Marinir, penanaman mangrove serta aksi membersihkan lingkungan.

Kegiatan sosial juga melibatkan dosen dan mahasiswa. Salah satunya berupa kegiatan kebersihan masjid dan dukungan terhadap perbaikan instalasi listrik masyarakat yang melibatkan sivitas akademika dari bidang Teknik Elektro.

Menurut Mahathir, aktivitas kemahasiswaan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di luar ruang kelas.

“Mahasiswa harus lebih kreatif. Jangan hanya kuliah, tetapi juga harus memberikan dampak. Dampak pertama adalah kepada diri sendiri, bagaimana kita berubah menjadi lebih baik, lebih bersemangat, lebih sopan dan santun. Setelah itu, perubahan tersebut harus memberikan dampak kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga mengajak mahasiswa mendokumentasikan berbagai kegiatan positif melalui media sosial. Pemanfaatan platform digital dinilai dapat membantu menyebarkan informasi mengenai kegiatan lingkungan sekaligus membangun literasi digital.

Bagian dari Komitmen Green Campus

Program Green Kampus PKKMB 2026 menjadi salah satu bentuk kegiatan lingkungan yang dilakukan Universitas Teknokrat Indonesia.

Kegiatan penghijauan, perawatan tanaman dan penebaran ikan di TeknoPark memperlihatkan keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam pengelolaan lingkungan kampus.

UTI juga mengikuti UI GreenMetric World University Rankings, pemeringkatan perguruan tinggi yang menilai sejumlah aspek terkait keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan kampus.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, konsep green campus diarahkan tidak hanya sebagai program tertentu, tetapi menjadi bagian dari budaya sivitas akademika.

Green Kampus Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan Green Kampus juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Pada aspek SDG 4 atau Pendidikan Berkualitas, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya kepedulian dan keberlanjutan lingkungan.

Sementara SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab dapat dikaitkan dengan pemanfaatan lahan kampus melalui penanaman tanaman herbal dan pemeliharaan tanaman buah.

Kegiatan penghijauan juga memiliki kaitan dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, terutama dalam membangun kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

Adapun penebaran ikan dan pemeliharaan vegetasi berkaitan dengan upaya menjaga ekosistem perairan dan daratan yang sejalan dengan SDG 14 dan SDG 15.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai keberlanjutan melalui materi akademik, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lingkungan kampus.

Menanam Harapan dari Lingkungan Kampus

Green Kampus PKKMB 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa baru Universitas Teknokrat Indonesia untuk mengenal pentingnya keberlanjutan sejak awal masa perkuliahan.

Sebanyak 30 bibit tanaman herbal, 20 tanaman buah yang dirawat, serta 1.200 ikan yang ditebar menjadi bagian dari aksi lingkungan yang melibatkan mahasiswa secara langsung.

Kegiatan tersebut juga membawa pesan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana.

Melalui tema “Menanam Harapan, Menumbuhkan Kehidupan, Menebar Keberlanjutan”, Universitas Teknokrat Indonesia mendorong mahasiswa agar tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial dan kesadaran terhadap lingkungan.

Dengan demikian, Green Kampus diharapkan tidak berhenti sebagai rangkaian kegiatan PKKMB, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang terus dilakukan mahasiswa selama berada di lingkungan kampus maupun ketika mereka kembali berinteraksi dengan masyarakat.

Mungkin Anda Suka