LAMPUNGINSIGHT.NET, PESAWARAN – Program Studi Teknik Kelautan Institut Teknologi Sumatera (Itera) melakukan survei batimetri di perairan Teluk Ratai, Desa Batu Menyan, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Kegiatan yang berlangsung pada 3–5 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Survei dilakukan untuk menyediakan informasi awal mengenai kondisi perairan yang dapat mendukung keselamatan dan efisiensi transportasi wisata bahari.
Dalam kegiatan tersebut, tim Teknik Kelautan Itera menggunakan teknologi SONAR untuk mengukur kedalaman sekaligus memetakan karakteristik dasar perairan Teluk Ratai.
Data hasil pemeruman nantinya dapat dimanfaatkan sebagai informasi awal dalam perencanaan jalur perahu wisata maupun pengembangan kawasan pesisir.
Survei Mencakup 18 Kilometer Persegi
Tim Itera melakukan pemeruman pada wilayah perairan dengan cakupan sekitar 18 kilometer persegi. Total lintasan pengambilan data mencapai 97,4 kilometer.
Selama survei, tim membuat 25 lintasan utama dan 11 lintasan silang. Pola lintasan tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi dasar perairan dari berbagai arah.
Hasil pengukuran awal menunjukkan kedalaman Teluk Ratai berada pada rentang 0,5 hingga 25,1 meter, dengan kedalaman rata-rata sekitar 20,51 meter.
Dari proses akuisisi tersebut, tim berhasil mengumpulkan sekitar 21,4 juta titik data kedalaman.
Jumlah data yang besar tersebut menjadi bahan penting untuk proses pengolahan dan penyusunan peta batimetri kawasan perairan Teluk Ratai.
Ditemukan Variasi Kedalaman dan Indikasi Cekungan
Data awal hasil pemeruman menunjukkan kondisi dasar perairan Teluk Ratai memiliki kedalaman yang cukup bervariasi.
Tim juga menemukan adanya indikasi cekungan pada bagian tertentu dari wilayah yang disurvei. Namun, informasi tersebut masih berupa hasil awal sehingga diperlukan pengolahan dan interpretasi lebih lanjut.
Identifikasi terhadap objek di dasar perairan maupun potensi bahaya navigasi juga belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan data awal tersebut.
Karena itu, data hasil survei akan melalui tahapan pengolahan sebelum dapat digunakan sebagai informasi pendukung untuk kebutuhan transportasi wisata bahari.
Pengukuran Pasang Surut Turut Dilakukan
Selain melakukan pengukuran kedalaman, tim Teknik Kelautan Itera juga melakukan pengamatan pasang surut.
Pencatatan dilakukan dengan interval setiap 15 menit. Data tersebut diperlukan untuk membantu memahami perubahan muka air laut selama proses survei berlangsung.
Informasi pasang surut kemudian dapat digunakan dalam proses interpretasi data kedalaman. Hal ini penting karena kedalaman suatu perairan dapat mengalami perubahan berdasarkan kondisi muka air laut.
Dengan menggabungkan data batimetri dan pasang surut, tim dapat memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai karakteristik perairan Teluk Ratai.
Gunakan Garmin GPSMAP/Fishfinder 585 Plus
Dalam proses pemeruman, tim menggunakan Garmin GPSMAP/Fishfinder 585 Plus sebagai instrumen utama.
Perangkat tersebut digunakan untuk membantu memperoleh data kedalaman perairan sekaligus menentukan posisi pengukuran.
Sistem penentuan posisi yang digunakan turut didukung oleh teknologi GPS, GLONASS, dan BeiDou. Kombinasi tersebut membantu tim memperoleh koordinat titik pengukuran selama proses survei berlangsung.
Data yang terkumpul selanjutnya akan diolah menjadi peta batimetri dan informasi pendukung navigasi wisata.
Dukung Pengembangan Wisata Bahari Teluk Ratai
Teluk Ratai merupakan salah satu kawasan perairan yang memiliki potensi untuk mendukung aktivitas wisata bahari di Kabupaten Pesawaran.
Ketersediaan informasi mengenai kondisi dasar perairan menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan transportasi wisata. Data kedalaman dapat membantu masyarakat maupun pemerintah desa memahami karakteristik perairan di sekitar kawasan aktivitas wisata.
Hasil survei Itera diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam perencanaan jalur perahu wisata yang lebih aman dan efisien.
Selain itu, informasi tersebut berpotensi mendukung pengembangan kawasan pesisir dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan karakteristik perairannya.
Namun, Itera menegaskan bahwa data yang diperoleh melalui kegiatan PkM tersebut merupakan basis informasi awal.
Data tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti peta navigasi resmi yang diterbitkan oleh lembaga berwenang.
Penegasan tersebut penting mengingat informasi batimetri untuk kebutuhan navigasi resmi membutuhkan standar, prosedur, serta validasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Libatkan Dosen dan Mahasiswa Teknik Kelautan
Kegiatan survei batimetri Teluk Ratai juga menjadi sarana bagi dosen dan mahasiswa Teknik Kelautan Itera untuk menerapkan teknologi survei kelautan secara langsung di lapangan.
Keterlibatan akademisi dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi pemetaan dasar perairan dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Bagi mahasiswa, kegiatan lapangan juga memberikan pengalaman dalam proses akuisisi data, penggunaan perangkat survei, pengamatan pasang surut, hingga pengolahan informasi kelautan.
Sementara bagi masyarakat Desa Batu Menyan, data yang dihasilkan dapat menjadi tambahan informasi dalam memahami kondisi perairan di wilayah mereka.
Ke depan, hasil pengolahan survei diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kontur dasar Teluk Ratai serta mendukung perencanaan aktivitas wisata bahari.
Dengan adanya pemetaan batimetri tersebut, pengembangan wisata tidak hanya mengandalkan daya tarik alam, tetapi juga dapat didukung informasi teknis mengenai kondisi perairan.
Langkah ini sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah dalam mengembangkan potensi wisata bahari secara lebih terukur dan memperhatikan aspek keselamatan.(**)






