Lifestyle

Sejarah Bandana: Dari Aksesori Fashion hingga Simbol Perjuangan

Bandana bukan sekadar aksesori fashion. Simak sejarahnya dari India, propaganda Amerika, gerakan buruh hingga kisah Welles Crowther.

Bandana, dari Aksesori Fashion hingga Simbol Perjuangan
Bandana merah sebagai aksesori fashion dan simbol perjuangan. | Grafis : @heriikurniawann
Daftar Isi
  1. Berawal dari Asia Selatan
  2. Motif Paisley dan Bandana Merah
  3. Bandana sebagai Alat Propaganda
  4. Menjadi Simbol Gerakan Buruh
  5. Bandana dan Sosok Rosie the Riveter
  6. Dari Fashion ke Simbol Persatuan
  7. Kisah Welles Crowther dan Bandana Merah

LAMPUNGINSIGHT.NET – Bandana bukan sekadar kain kecil yang dikenakan di kepala atau leher. Aksesori yang identik dengan motif paisley dan warna merah ini memiliki sejarah panjang, mulai dari dunia tekstil, mode, kampanye politik, gerakan buruh, hingga simbol keberanian.

Popularitas bandana kembali terlihat di panggung mode ketika Versace menampilkan koleksi Spring Summer 2022. Rumah mode asal Italia itu menggunakan bandana sutra dalam berbagai gaya. Kain tersebut tidak hanya dipakai sebagai penutup kepala, tetapi juga dililitkan di pergelangan tangan dan leher, digunakan pada pegangan tas, hingga menjadi pengganti ikat pinggang.

Versace menghadirkannya dalam warna-warna pastel dan motif barok yang menjadi ciri khas rumah mode tersebut.

Bandana umumnya berbentuk kain persegi dengan ukuran sekitar 56 x 56 hingga 68,5 x 68,5 sentimeter. Meski sederhana, kain ini dikenal sangat fleksibel karena dapat dikenakan dengan berbagai cara.

Dengan penataan berbeda, bandana bisa menghadirkan tampilan feminin, bohemian hingga edgy. Namun, jauh sebelum menjadi bagian dari tren fashion, bandana telah melewati perjalanan sejarah selama sekitar tiga abad.

Berawal dari Asia Selatan

Asal-usul bandana kerap dikaitkan dengan Asia Selatan, khususnya India.

Istilah bandana dipercaya berkaitan dengan kata bandhani, yakni teknik pewarnaan tekstil tradisional India. Ada pula sumber yang menghubungkan istilah tersebut dengan kata Sanskerta badhnati, yang berarti mengikat.

Pada abad ke-18, kain tersebut mulai masuk ke Eropa melalui aktivitas perdagangan yang dilakukan VOC dan English East India Company (EIC).

Di Eropa, bandana kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan. Salah satunya sebagai sapu tangan. Pada masa itu, sebagian pengguna tembakau memanfaatkan kain untuk membersihkan hidung. Motif yang ramai dianggap membantu menyamarkan noda tembakau yang tertinggal pada kain.

Perempuan Eropa kemudian mulai mengenakan bandana sebagai aksesori menyerupai syal. Motif paisley yang berasal dari Persia menjadi salah satu pola yang paling populer.

Seiring perkembangannya, bandana tidak lagi hanya dianggap sebagai kain praktis. Aksesori tersebut perlahan menjadi bagian dari gaya berpakaian dan bahkan dikaitkan dengan status sosial.

Motif Paisley dan Bandana Merah

Dalam perkembangannya di Eropa, produsen tekstil berusaha mengembangkan warna merah khas yang kemudian dikenal sebagai salah satu warna ikonis bandana.

Di Eisenhower, Prancis, pengembangan warna tersebut menggunakan bahan seperti kotoran biri-biri, akar tanaman madder dan minyak zaitun. Proses pewarnaannya pada masa itu tergolong rumit.

Sementara itu, motif paisley yang digunakan pada sejumlah bandana Eropa banyak terinspirasi dari desain tekstil India.

Dari sinilah bandana semakin dikenal luas sebagai aksesori yang memiliki karakter visual kuat.

Bandana sebagai Alat Propaganda

Perjalanan bandana kemudian memasuki babak baru di Amerika Serikat.

Pada masa Revolusi Amerika, bandana tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga digunakan sebagai media penyampaian pesan.

Martha Washington, istri George Washington, disebut pernah memesan bandana dengan desain khusus kepada John Hewson, seorang produsen tekstil di Philadelphia.

Hewson membuat kain bergambar George Washington yang sedang menunggang kuda. Desain tersebut dilengkapi gambar meriam, bendera serta tulisan yang memuat pesan mengenai Washington dan perjuangan kemerdekaan Amerika.

Produksi bandana dengan gambar dan pesan politik menjadi salah satu bentuk propaganda pada masa ketika aktivitas percetakan di koloni Amerika dibatasi oleh Inggris.

Setelah Amerika merdeka, bandana semacam itu semakin dikenal. Replikanya diproduksi secara massal dan kemudian digunakan dalam berbagai kampanye politik.

Pada 1912, misalnya, bandana kampanye Theodore Roosevelt memuat notasi dan lirik lagu kampanye kepresidenannya, We Want Teddy.

Sementara pada kampanye Dwight “Ike” Eisenhower pada 1952, bandana menampilkan wajah Eisenhower dengan tulisan “Win with Ike for President”.

Biaya produksi yang semakin terjangkau kemudian membuat bandana berkembang menjadi salah satu media promosi dan pemasaran pada awal abad ke-20.

Menjadi Simbol Gerakan Buruh

Bandana juga memiliki kaitan dengan sejarah gerakan buruh Amerika Serikat.

Pada 1921, lebih dari 10.000 pekerja tambang di West Virginia melakukan aksi demonstrasi untuk menuntut kondisi kerja yang lebih baik dan perlindungan terhadap serikat pekerja.

Dalam aksi yang kemudian dikenal sebagai Battle of Blair Mountain, para pekerja menggunakan bandana merah dan berhadapan dengan aparat bersenjata.

Konflik tersebut menelan korban jiwa dan menyebabkan ribuan orang ditangkap. Meski gerakan tersebut akhirnya tidak mencapai seluruh tuntutan yang diharapkan, peristiwa itu menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan buruh di Amerika Serikat.

Bandana merah pun kemudian memiliki makna yang lebih luas sebagai simbol perlawanan dan solidaritas.

Bandana dan Sosok Rosie the Riveter

Ketika Perang Dunia II berlangsung, banyak laki-laki Amerika Serikat pergi ke medan perang. Perempuan kemudian mengambil alih sejumlah pekerjaan yang sebelumnya didominasi laki-laki, termasuk bekerja di pabrik dan galangan kapal.

Bandana menjadi aksesori praktis untuk mengikat rambut selama bekerja.

Pada masa inilah muncul sosok Rosie the Riveter, karakter fiktif yang kemudian menjadi salah satu simbol perempuan pekerja paling dikenal dalam sejarah Amerika.

Rosie digambarkan mengenakan pakaian kerja berwarna biru dengan rambut yang diikat menggunakan bandana merah bermotif polkadot putih. Ia mengepalkan tangan sambil menunjukkan kekuatan fisiknya dengan pesan terkenal, “We can do it”.

Citra tersebut membuat bandana merah semakin lekat dengan gambaran perempuan pekerja, kekuatan dan semangat untuk berkontribusi di tengah situasi perang.

Dari Fashion ke Simbol Persatuan

Makna bandana kembali berkembang pada 2017 melalui inisiatif sosial #TiedTogether yang dipelopori The Business of Fashion.

Dalam gerakan tersebut, para desainer, jurnalis dan pemengaruh di industri mode diajak mengenakan bandana putih sebagai simbol persatuan manusia tanpa memandang ras, gender, agama maupun orientasi seksual.

Inisiatif tersebut muncul ketika masyarakat Amerika Serikat tengah menghadapi perdebatan dan perpecahan politik setelah pemilihan presiden 2016.

Meski demikian, penggagas #TiedTogether menyatakan bahwa gerakan tersebut tidak dimaksudkan semata-mata sebagai gerakan politik, melainkan sebagai ajakan untuk membangun persatuan.

Kisah Welles Crowther dan Bandana Merah

Salah satu kisah paling kuat mengenai bandana merah datang dari tragedi 11 September 2001.

Welles Crowther, seorang equity trader yang bekerja di World Trade Center, menjadi salah satu korban serangan tersebut.

Ketika United Airlines Flight 175 menghantam Menara Selatan, sejumlah orang terjebak di lantai 78. Kondisi di lokasi semakin berbahaya karena ruangan dipenuhi asap dan api.

Crowther membantu sekelompok korban keluar dari lantai tersebut. Setelah membawa mereka menuju area yang lebih aman, ia kembali ke lantai atas untuk menolong korban lainnya.

Beberapa bulan kemudian, kisah tentang seorang pria yang membantu korban sebelum akhirnya menghilang diberitakan oleh The New York Times. Para penyintas tidak mengetahui identitasnya. Mereka hanya mengingat satu ciri: pria tersebut menutup hidung dan mulutnya menggunakan bandana merah.

Bagi ibu Crowther, Alison Crowther, ciri tersebut langsung mengarah kepada putranya.

Sejak kecil, Welles memang dikenal selalu mengenakan bandana merah. Ia mendapat bandana tersebut dari ayahnya ketika berusia sekitar enam tahun.

Saat SMA, Crowther aktif sebagai pemadam kebakaran junior dan menjadi kapten tim hoki. Ketika berkuliah di Boston College, bandana merah juga menjadi bagian dari penampilannya saat bermain lacrosse.

Kisah hidupnya kemudian menginspirasi Boston College menggelar Red Bandana Run setiap musim gugur. Para peserta mengenakan bandana merah sebagai bentuk penghormatan terhadap Crowther.

Kisah tersebut juga diangkat ke dalam film dokumenter berjudul Man in the Red Bandana.

Bagi sebagian orang, bandana merah akhirnya tidak lagi sekadar aksesori. Ia menjadi simbol keberanian, solidaritas, perjuangan dan penghormatan terhadap orang-orang yang berani membantu sesamanya.

Dari panggung Versace hingga sejarah gerakan buruh dan kisah Welles Crowther, perjalanan bandana menunjukkan bagaimana selembar kain sederhana dapat berubah makna mengikuti zaman. Ia bisa menjadi bagian dari gaya berpakaian, media menyampaikan pesan, sekaligus simbol keberanian yang dikenang hingga kini.

Mungkin Anda Suka