LampungInsight.net – Tim Rescue Overlanding Indonesia (OVI) Lampung masih melanjutkan aksi kemanusiaan untuk membantu warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Delapan anggota Rescue OVI Lampung berangkat dari Lampung menuju NTT pada 25 Agustus 2026. Mereka menjalankan sejumlah kegiatan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana.
Koordinator Tim Rescue OVI Lampung yang juga Sekretaris OVI Lampung, Aris Gibrant, mengatakan bantuan difokuskan untuk kebutuhan dasar sekaligus membantu warga bertahan selama masa setelah bencana.
Salah satu lokasi yang menjadi sasaran kegiatan yakni Desa Nunang, Reo, Kabupaten Manggarai. Di wilayah tersebut, tim Rescue OVI Lampung bersama warga membangun puluhan hunian sementara (huntara) untuk keluarga yang terdampak gempa.
“Puluhan bangunan hunian sementara (HUNTARA) untuk keluarga terdampak dibangun bersama di Desa Nunang, Reo, Manggarai NTT. Dan sampai hari ini tim Rescue OVI Lampung masih ada yang bekerja bersama warga untuk siapkan HUNTARA,” kata Aris.
Selain membangun huntara, tim juga membuka pelayanan kesehatan secara mobile di sejumlah titik pengungsian. Dapur hangat turut disiapkan di Satar Punda, Lambaleda, Manggarai Timur.
Bantuan lainnya mencakup pembangunan masjid darurat dan penyediaan perlengkapan masjid untuk menggantikan fasilitas yang terdampak gempa. Tim juga menyiapkan tandon air bersih di Roket.
Upaya memenuhi kebutuhan air bersih dilakukan bersama Pos Gabungan Manggarai Timur. Tim Rescue OVI Lampung ikut membantu pembangunan jaringan pipanisasi untuk menyalurkan air bersih ke lokasi pengungsian.
“Karena banyak bangunan rumah ibadah yang runtuh, maka kita bangun rumah ibadah sementara, agar para saudara kita bisa melakukan ibadah,” ujar Aris.
Salurkan Logistik ke Lokasi Sulit Dijangkau
Pada masa awal penanganan bencana, Rescue OVI Lampung juga menyalurkan logistik secara mobile ke sejumlah lokasi pengungsian.
Penyaluran bantuan dilakukan dengan menghadapi medan yang tidak mudah. Untuk menjangkau warga di beberapa lokasi, tim bahkan harus berjalan kaki menyusuri sungai.
Selain membantu korban gempa, tim Rescue OVI Lampung juga memberikan santunan kepada korban kebakaran saat gempa di Reo, Manggarai.
Seluruh bantuan tersebut disiapkan melalui posko bersama relawan gabungan yang berada di lokasi bencana.
Ketua OVI Lampung, Deni Ribowo, menyampaikan apresiasi kepada para anggota tim yang hingga kini masih bertahan dan menjalankan tugas kemanusiaan di lokasi bencana.
Menurut Deni, pembentukan Tim Rescue OVI Lampung merupakan bagian dari upaya OVI memperkuat kegiatan di bidang kemanusiaan.
Ia menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan arahan Founder Overlanding Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), agar kegiatan OVI tidak hanya berorientasi pada perjalanan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
“Founder berpesan kepada kami, Overlanding Indonesia bukan sekadar perjalanan biasa, namun lebih pada aksi kemanusiaan, peduli lingkungan dan selebihnya overland menikmati alam semesta,” jelas Deni.
Dukungan Mengalir dari Pengurus OVI
Aksi kemanusiaan Rescue OVI Lampung juga mendapat dukungan dari Ketua Umum Overlanding Indonesia, Irjen Pol Arief Rachman.
Deni mengatakan dukungan tersebut diberikan setelah Ketua Umum OVI menerima laporan mengenai rencana keberangkatan tim Rescue OVI Lampung menuju Kabupaten Manggarai, NTT.
Dukungan kemudian diwujudkan melalui penggalangan bantuan yang dilakukan saat malam kegiatan Jambore Nasional OVI di Tasikmalaya.
Selain donasi, ratusan sepatu juga diberikan kepada warga di lokasi pengungsian yang sulit dijangkau.
“Kami merasa bangga sekaligus terharu terhadap reaksi Ketum OVI. Beliau tidak banyak bicara, tiba-tiba pada saat malam puncak Jambore Nasional di Tasikmalaya, ternyata beliau perintahkan open donasi,” terang Deni.
Hingga kini, sebagian anggota Tim Rescue OVI Lampung masih berada di NTT. Mereka melanjutkan kegiatan bersama warga dan relawan gabungan, terutama untuk membantu kebutuhan masyarakat di sejumlah lokasi pengungsian.
Kegiatan tersebut tetap berjalan seiring dengan kondisi kebencanaan dan kebutuhan warga yang masih harus dipenuhi di lapangan.








