News

Investasi Lampung Tembus Rp7,3 Triliun pada Semester I 2026, Serap 9.187 Tenaga Kerja

Investasi Lampung pada semester I 2026 mencapai Rp7,3 triliun dan menyerap 9.187 tenaga kerja, menurut data Pemprov Lampung.

Investasi Lampung Tembus Rp7,3 Triliun pada Semester I 2026, Serap 9.187 Tenaga Kerja
Daftar Isi
  1. Investasi Dalam Negeri Mendominasi
  2. Pertanian hingga Pariwisata Jadi Sektor Potensial
  3. Pemprov Lampung Dorong Perizinan Berusaha Lebih Mudah
  4. Tantangan Menjaga Investasi Tetap Berdampak

LampungInsight.net – Pemerintah Provinsi Lampung mencatat realisasi investasi sebesar Rp7,3 triliun selama semester pertama 2026. Capaian tersebut disertai penyerapan tenaga kerja sebanyak 9.187 orang, yang terdiri atas pekerja Indonesia dan tenaga kerja asing.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan capaian itu sebagai hasil kolaborasi pemerintah daerah dalam memperkuat infrastruktur, meningkatkan kualitas tenaga kerja, menyederhanakan regulasi, serta memperluas promosi investasi.

Berdasarkan keterangan Pemprov Lampung yang diberitakan ANTARA pada Senin (12/10/2026), nilai investasi tersebut berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). Investasi domestik masih menjadi penyumbang terbesar dalam realisasi selama enam bulan pertama tahun ini.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator aktivitas penanaman modal di Lampung. Namun, dampaknya terhadap perekonomian masyarakat juga perlu dilihat dari keberlanjutan proyek, kualitas lapangan kerja yang tercipta, dan sejauh mana investasi mendorong kegiatan usaha lokal.

Investasi Dalam Negeri Mendominasi

Dari total realisasi investasi Rp7,3 triliun, PMDN menyumbang Rp5,2 triliun. Sementara itu, investasi yang berasal dari penanaman modal asing mencapai Rp2,1 triliun.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa modal dari pelaku usaha dalam negeri menjadi bagian terbesar dari investasi yang tercatat di Lampung selama semester I 2026.

Dari sisi ketenagakerjaan, sebanyak 9.180 tenaga kerja Indonesia terserap dalam kegiatan investasi tersebut. Adapun tenaga kerja asing yang tercatat berjumlah tujuh orang, sehingga total penyerapan tenaga kerja mencapai 9.187 orang.

Angka tersebut memberikan gambaran mengenai kontribusi aktivitas penanaman modal terhadap kesempatan kerja. Meski demikian, jumlah tenaga kerja yang terserap belum dengan sendirinya menjelaskan tingkat upah, status pekerjaan, maupun berapa banyak lapangan kerja yang akan bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, peningkatan investasi perlu diikuti pemantauan terhadap kualitas pekerjaan serta keterlibatan tenaga kerja lokal sesuai kebutuhan industri.

Pertanian hingga Pariwisata Jadi Sektor Potensial

Lampung memiliki sejumlah sektor yang dinilai berpotensi menarik penanaman modal, antara lain pertanian, perkebunan, kelautan, energi, dan pariwisata.

Sektor pertanian dan perkebunan memiliki peran penting karena Lampung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil berbagai komoditas pangan dan perkebunan. Potensi tersebut dapat membuka peluang pengembangan industri pengolahan yang memberikan nilai tambah pada hasil produksi.

Investasi pada industri hilir, misalnya, dapat memperluas pemanfaatan bahan baku lokal sebelum dipasarkan ke konsumen atau dikirim ke wilayah lain. Jika terhubung dengan petani, koperasi, dan usaha kecil, pengembangan industri tersebut berpeluang memperluas rantai ekonomi daerah.

Sementara itu, sektor energi dan pariwisata menawarkan peluang investasi pada infrastruktur dan layanan pendukung. Meski memiliki karakter berbeda, seluruh sektor tersebut membutuhkan kepastian regulasi, ketersediaan infrastruktur, serta sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan agar pertumbuhan investasi tidak hanya terkonsentrasi pada nilai modal yang masuk, tetapi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pemprov Lampung Dorong Perizinan Berusaha Lebih Mudah

Pemprov Lampung menyebut penyederhanaan perizinan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat iklim investasi. Pemerintah mendorong penggunaan sistem Online Single Submission Risk-Based Approach atau OSS-RBA, yakni sistem perizinan berusaha berbasis risiko yang memungkinkan pengajuan izin dilakukan secara daring.

Sistem tersebut dikembangkan untuk menyederhanakan proses administrasi dan menyesuaikan persyaratan perizinan dengan tingkat risiko kegiatan usaha. Kerangka penyelenggaraannya juga disempurnakan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025.

Melalui digitalisasi perizinan, calon investor diharapkan dapat mengurus kebutuhan administrasi secara lebih efisien. Namun, efektivitas layanan juga bergantung pada konsistensi penerapan aturan, kejelasan informasi, dan koordinasi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten serta kota.

Gubernur Lampung turut menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan dan integritas aparatur sipil negara (ASN). Pelayanan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha.

Tantangan Menjaga Investasi Tetap Berdampak

Realisasi investasi Rp7,3 triliun menjadi capaian penting bagi Lampung pada paruh pertama 2026. Meski demikian, nilai tersebut perlu dibaca bersama indikator lain untuk menilai kondisi ekonomi daerah secara menyeluruh.

Pemerintah perlu terus mendorong agar proyek yang masuk dapat berjalan sesuai rencana, menyerap tenaga kerja, dan membangun keterkaitan dengan usaha lokal. Pelatihan tenaga kerja juga menjadi penting agar masyarakat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan sektor yang berkembang.

Selain itu, potensi sektor pertanian dan perkebunan dapat dikembangkan melalui pengolahan hasil produksi sehingga nilai tambah tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Upaya ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah, investor, pelaku industri, dan produsen lokal.

Ke depan, tantangan Lampung bukan hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi juga memastikan bahwa modal yang masuk menghasilkan kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan. Dengan dukungan regulasi yang jelas, infrastruktur memadai, dan tenaga kerja yang kompeten, investasi berpeluang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Mungkin Anda Suka